WELCOME TO MY BLOG

Merci d'etre venu

Jumat, 30 Desember 2011

I'm Not For You #part 2


Vino mengaitkan kancing seragam sekolahnya di depan cermin. Lalu mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi sambil tersenyum tipis. Dia masih ingat ekspresi Tiara yang marah-marah dan menolaknya. Masih terngiang di benaknya dengan jelas. Sangat jelas.
Vino sudah bertekad untuk bisa mendapatkan anak baru itu. Harus! Karena dia belum pernah di tolak seperti ini. Apalagi sama cewek. Hanya cewek. Itu persoalan mudah. Sangat musah. Sama seperti meng-shut bola basket ke ring. Tapi Tiara... benar-benar membutuhkan keahlian khusus untuk mendekatinya.
Vino melipat kedua tangannya di depan dada sambil berpikir keras. Bagaimana Tiara bisa menjadi miliknya? Dia benar-benar harus memikirkan matang-matang soal ini. Agar tidak salah langkah. Karena Tiara adalah cewek langka menurutnya.
Jika Vino menyukai cewek. Tinggal di ajak makan atau mengeluarkan senyuman mautnya saja. Dengan begitu cewek itu tidak akan menolaknya. Tidak akan. Tapi yang ini, boro-boro di ajak makan. Di senyumin aja nggak mempan.
"Hari ini gue harus bisa ngajak dia pulang bareng!" ucap Vino penuh tekad sambil tersenyum licik. Penolakan Tiara kemarin semakin membuat dia tertantang untuk memilikinya.

***
"Ejieeeee, rajin banget lo, Ram. Gini hari udah nangkring di rumah gue." kata Tiara sambil menduduki salah satu kursi makan dan menyeringai lebar.
Rama mencibir. "Rajin apaan? Lo telat lima menit, tau." katanya sambil menunjukan jam tangannya ke hadapan Tiara.
"Empat menit bukan lima menit. Salah lo!" balasnya santai sambil meraih roti tawarnya dan mengoleskan dengan selai strawbery kesuakaannya.
Rama mengerutkan dahinya sambil melihat jam tangannya. Benar juga, telat empat menit bukan lima menit. Tapi tetap, dia tidak mau kalah. Sekali telat, tetap telat!
Teryadi tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah tahu sifat Tiara yang tidak mau kalah.
"Sekarang udah lima menit." balas Rama agak kikuk. Malu juga dirinya.
"Tapi tadi masih empat menit." Tiara memeletkan lidanya dengan tampang lucu. Lalu mengunyah rotinya dengan santai.
"Tapi tetep aja. Judulnya lo telat." Rama tetap tidak mau kalah.
"Tapi lo salah ngomong menitnya."
"Sudah." Teryadi menengahi sambil melipat korannya. "Kalo kali berantem terus. Nanti sekolahnya telat lho." lanjutnya sambil tertawa geli. Lalu meminum kopinya.
"Tau, Tiara!" Rama menyalahkan Tiara sambil mengunyah rotinya.
"Dih, kok gue? Kan elo!"
Tiba-tiba Tiara dan Rama tertawa geli berbarengan. Lalu mengunyah roti masing-masing dalam diam.
"Ram, berangkat, yuk! Udah siang nih." ajak Tiara sambil meminum susu putihnya. Lalu meraih tas sekolahnya.
Rama mengangguk-angguk sambil meraih ranselnya.
"Pa, aku berangkat ya." pamit Tiara sambil mencium pipi kanan-kiri papanya.
"Hati-hati ya, sayang."
"Om berangkat dulu ya." pamit Rama sopan sambil tersenyum lebar.
Teryadi mengangguk-angguk sambil tersenyum. "Hati-hati ya, Ram."
"Iya, Om."
Tiara dan Rama melangkahkan kakinya. Kemudian mereka memasuki mobil Jeep Grand Cherokee-nya Rama.
"Thanka Ramaku tercinta." ucap Tiara genit sambil menyeringai geli.
"Cinta! Cinta! Ogah gue ama lo, Ra." cibirnya. Padahal di dalam hati dia sudah deg-degan sendiri.
"Hehehe..." Tiara lalu mengulurkan tangannya. Mencubit pipi rama. "Iiihh, bikin gue gemes ajaaa." Lanjutnya gemas sambil memainkan pipi Rama dengan gemas.
Rama langsung berusaha mengenyahkan tangan Tiara. "Apaan sih, Ra? Gue bukan anak kecil lagi, tau. Aaahh, lepaaas!"
"Hehehe..." Tiara mengalah. Sambil tertawa geli dia melepaskan cubitannya. Lalu dia menyeringai geli. "Daaaaaaah." pamitnya sambil mengedipkan satu matanya dengan genit. Lalu dia turun dari mobil.
Rama tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu menekan klakson sebanyak tiga kali. Dan langsung menancapkan mobilnya menuju sekolahnya yang memang lumayan jauh dari sekolah Tiara.
Sesaat, Tiara melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum. Lalu membalikan tubuhnya. Dia melangkahkan kakinya dengan ringan sambil bersenandung pelan. Menuju kelasnya.
Tapi tiba-tiba langkah Tiara terhenti di koridor dekat kelasnya. Karena dia melihat Vino di sana. Bersandar punggung di pintu kelas sambil tersenyum ke arahnya. Dia melengos sesaat. Kesal melihat tampang playboy cowok itu.
Tiara berdecak pelan. "Ngerusak mood gue aja sih ni orang." keluhnya pelan.
Tiara menghela napas sesaat. Lalu melangkahkan kakinya tanpa kedua matanya mengarah ke Vino. Sama sekali tidak melihat ke Vino. Enek melihat wajah sok cool itu.
Vino tersenyum tipis melihat wajah jutek itu. Tapi dia sudah bertekad untuk menang hari ini. Harus menang! Karena dia ingin Tiara tahu. Dengan siapa cewek itu berhadapan. Enak saja cewek itu memandangnya dengan sebelah mata. Sebelah mata masih mending. Ini sama sekali tidak ada mata!
Vino langsung meraih lengan Tiara saat cewek itu melewati dirinya dengan sangat santai. Kalau cewek lain pasti akan langsung menyapa dirinya. Tapi seorang Tiara menyapa dia, sepertinya harus ada jampi-jampi terlebih dahulu.
"Eh, nggak usah kurang ajar ya! Megang-megang gue!" bentak Tiara langsung sambil menyingkirkan tangan yang memegangnya dengan kasar.
Teman-teman di kelas Tiara langsung menoleh ke TKP. Ketika mendengar cewek itu teriak-teriak. Dan mereka semakin tercengang. Tertegun. Ketika tahu cewek itu sedang marah-marah ke Vino. Vino! Seorang Vino Adrian Hatamo yang ganteng itu. Pujaan cewek-cewek sesekolahan. Yang cool, keren, baik abis. Benar-benar membuat mereka takjub.
Vino sudah tidak kaget lagi melihat tanggapan Tiara yang seperti itu. Bahkan semua adik kelasnya di kelas XI-3 menoleh ke arahnya. Khusus untuk cewek yang satu ini, dia berusaha menyabarkan hatinya. Dan berusaha untuk tetap tersenyum untuk cewek di hadapannya.
"Pulang gue anter?" tanya Vino to the point. Karena menurutnya untuk cewek langka di hadapannya tidak perlu bertele-tele.
Tiara mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Mulutnya sedikit terbuka. Kaget dengan tawaran yang langsung ke intinya. Tapi seharusnya dia tidak perlu kaget lagi dengan cowok sok cool di hadapannya. Karena dia tahu banget sifat-sifat cowok seperti ini. Maju terus pantang malu. Padahal kemaren jelas-jelas sudah di tolak telak-telak. Tapi cowok di hadapannya tetap maju terus. Sudah begitu pantang malu pula.
"Nggak!" jawab Tiara seketika sambil mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Lalu bibirnya di hiasi dengan senyum tipis.
Vino mengangguk-angguk. Sudah tahu jawabannya pasti "Nggak". Butuh trik yang ekstrem ternyata untuk mengantarkan cewek ini pulang. Tapi itu nanti saja. Tidak usah sekarang. Tidak usah terburu-buru. Kalau sama cewek model seperti ini harus slow.
"Oke." Vino tersenyum tipis. Lalu mengacak-acak rambut Tiara sesaat. Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju kelasnya di lantai tiga sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya.
Tiara mengerutkan kedua alisnya. Kedua matanya membelalak lebar mengikuti punggung Vino yang bergerak jauh. Aneh dengan sikap cowok itu. Bisa tiba-tiba pergi begitu saja tanpa hasil. It's amazing to a guy such a playboy.
"Gila! Berani banget lo nolak ajakan kak Vino!" kata farah yang langsung mengahmpiri Tiara, setelah vino meninggalkan tempatnya. Sambil menepuk satu bahu cewek itu.
Tiara menoleh dan menatap Farah dengan wajah bingung. Lalu mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. "Kak Vino?"
Farah mengarahkan dagunya ke Vino.
Tiara mengangguk-angguk. Ooohh, jadi cowok itu kakak kelas gue, katanya dalam hati. Baru ngeh. Tapi seingatnya kemarin cowok itu menyebutkan kelasnya. Tapi dia tidak terlalu mendengarkan. Tidak peduli juga.
"Nyesel aja lo, Ra!" sambung Cika dengan pandangan takjub. Seakan-akan pandangan itu berkata "Kalo gue jadi lo, gue nggak akan nolak ajakan Kak Vino. Sumpah!"
"Nyesel kenapa?" Tiara menatap Cika dengan pandangan bingung.
"Ra! Lo nggak liat tampang Kak Vino. Guanteng tenan gitu. Gayanya kueren buanget. Cool abis. Jago basket pula. Dia selalu menangin perlombaan di sekolah kita!" jawab Rina histeris. Bahkan kalimatnya sampai blepotan dan kuah-kuah muncrat seketika.
Tiara agak menjauhkan wajahnya dari Rina sambil mengangkat kedua alisnya sesaat. Takut terkena kuah nyasar. Lalu perlahan dia mengangguk-angguk. Kalau soal tampang sih. Dia tidak memungkiri, kalau Vino memang ganteng. Gayanya juga keren. Tapi entah mengapa, dia tidak suka cowok seperti itu. Pasti cowok itu sering mempermainkan hati wanita. Pasti! Nggak mungkin nggak!
"Jago maen basket apaan!?" Tiara mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi di hadapan teman-temannya yang histeris. "Gara-gara dia! Pala gue benjol plus pusing begini!" lanjutnya sambil menunjuk-nunjuk kepalanya dengan tampang kesal.
"Kenapa?" tanya ketiganya bingung.
"Yaaaa, gara-gata tu cowok nggak bisa maen basket!" tandasnya seketika.
"Jangan asal ngomong lo, Ra!" Cika langsung tidak terima. Menurutnya Vino jago buanget main basketnya. Wong, semua piala langsung di sikatnya tanpa ampun. "Kak Vino tuh maen basketnya jago banget, tau!"
"Terserah elo deh. Kalo nggak percaya." jawabnya cuek. Malas meladeni teman-temannya yang terhipnotis dengan tampang Vino yang kece abis. Lalu melanjutkan langkahnya ke tempat duduk barunya dengan santai.
Tiara mengercitkan kedua alisnya. Niko tidak ada di bangkunya. Tapi ranselnya sudah tergantung manis di sandaran kursi. Dia mengangkat kedua bahunya dengan cuek. Bodo amat lah. Lebih baik begini. Daripada dia harus melihat tampang datar tak beremosi apalagi tersenyum seperti Niko itu. Malah membuat moodnya semakin jelek.

***
"Ramaaa!" teriak seorang cewek dari kejauhan.
Rama menoleh sambil mengangkat kedua alisnya sesaat. Lalu dia berdecak pelan. Malas bertemu cewek itu. Di paksanya bibirnya untuk menyunggingkan senyum.
"Aku dari tadi nyariin kamu, tau." kata Vanesa manja.
Rama menyeringai lebar. "Maaf. Tadi aku di panggil Pak Arul." Lanjutnya berbohong. Alasan tepatnya, dia ingin menghindar dari cewek ndableg ini.
Vanesa mengangguk-angguk. "Nanti anterin aku ke mall ya." pintanya sambil tersenyum manis.
Rama langsung tersenyum kecut dalam hati. Vanesa pake minta anterin lagi, katanya dalam hati. Kesal. Berarti dia tidak bisa menjemput Tiara hari ini. Padahal dia sangat menanti-nanti pulang sekolah cepat datang. Agar dirinya bisa bertemu dengan Tiara. Tapi ternyata ceweknya yang manja ini minta anterin ke mall. Sungguh mengganggu kesenangan diri. Tapi dia juga tidak bisa menolak ajakan Vanesa. Soalnya cewek itu akan tetap memaksanya untuk mau mengantarnya. Karena cewek di hadapannya mempunyai segudang cara untuk memaksanya.
"Oke deh." ucap Vanesa kemudian tanpa menunggu jawaban dari pacarnya. "Aku tunggu di mobil kamu pulang sekolah ya." lanjutnya lembut sambil mengedipkan satu matanya dengan genit. Lalu meninggalkan rama dengan santai.
Rama ternganga sesaat. Lalu membalikan tubuhnya sambil menatap punggung Vanesa yang bergerak menjauh. Perlahan dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Belom juga gue jawab. Udah ngambil keputusan sendiri aja si Vanesa. Bener-bener cewek gila!"
Sudah lama Rama ingin memutuskan hubungannya dengan Vanesa. Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Sangat-sangat tidak mungkin. Karena dia tidak pernah "menembak" Vanesa. Malah hubungan ini di jalaninya dengan tepaksa. Sangat terpaksa. TERPAKSA!!!
Gila aja! Bayangin dong! Waktu Rama menolak cinta Vanesa. Vanesa malah nekat teriak-teriak kencang, sampai histeris malah. Di depan umum pula. Kalau seorang Rama Nugroho sudah menghamili dirinya! WHAT!?
Kebayang nggak sih malunya wajah Rama waktu itu? Gila! Dia saja sampai mau pingsan dengarnya. Boro-boro menghamili Vanesa. Pegangan tangan aja, belum pernah!
Akhirnya Rama memohon dengan amat sangat untuk Vanesa mengkonfirmasikan ke umum, kalau ucapannya waktu itu bohong. Vanesa setuju. Tapi cewek itu memberikan syarat yang mampu membuat dia lebih memilih gantung diri daripada harus menurutinya. Tapi karena dia masih ingat sama mama, papa, kakak, dan adiknya serta seluruh keluarganya. Akhirnya dengan suangat amat TERPAKSA dia menuruti syarat Vanesa.
Dan syaratnya adalah: seorang Rama Nugroho harus wajib kudu menjadi pacar seorang Vanesa Putri Hatamo. Harus! Kalau masalahnya mau clear.
Rama bergidik ketika mengingat kejadian buruk itu. Dunia sudah seperti bagaikan neraka untuknya. Ke mana-mana dan di mana-mana dia harus dekat dengan Vanesa. Bersikap baik dan manis ke cewek itu. Memanjakan cewek itu. Dan semua tingkah laku lainnya yang membuatnya ingin muntah setiap hari.
Bel masuk seketika membuyarkan lamunan Rama. Lalu dia menghela napas. Terpaksa dia harus merelakan hari-hari indahnya bersama Tiara. Karena pasti peri jahat itu—sebutan yang di berikan Rama ke Vanesa—akan terus menguntitnya ke mana-mana. Sampai dia menuruti permintaannya.

***
Teryadi mengendarai mobil Toyota Rush-nya dengan santai. Karena jalanan sedang lenggang. Dia menghela napas panjang. Lalu berdecak pelan. Berfikir bagaimana caranya untuk memberitahu Tiara tentang hubungannya dengan Luna yang sudah terjalin kurang lebih dua tahun ini.
Teryadi bingung harus berbicara dengan Tiara dari mana. Tiara memang tidak pernah mengeluh dengan tidak ada kehadiran seorang ibu di sisinya. Karena ibunya meninggal saat melahirkannya. Istri tercintanya pendaharan saat melahirkan Tiara. Dan akhirnya nyawanya tak tertolong.
Waktu Tiara masih SD, anak tercintanya itu memang sering iri melihat teman-temannya di antar-jemput sama ibu mereka. Sedangkan Tiara sama sopir pribadi. Teman-temannya juga selalu mengambil rapot dengan ibu mereka. Sedangkan Tiara selalu dengan papanya—atau kalau dirinya sedang sibuk—sama Mbok Nah, pembantu yang kerja di rumahnya.
Tiara memang tidak pernah berbicara apa-apa dengan dirinya. Tapi dia tahu, kalau anaknya juga ingin seperti teman-temannya. Berangkat sekolah ada yang menemaninya sampai depan pintu. Pulang sekolah ada yang menunggunya di depan itu. Selalu memakan masakan seorang ibu. Dan mungkin itu adalah impian Tiara.
Jadi Teryadi fikir, kalau dirinya mencari calon mama baru untuk Tiara. Tiara akan setuju dan merestuinya. Tapi kenapa dia sekarang jadi pesimis begini. Takut Tiara tidak menyetujui hubungannya dengan Luna. Masalahnya dia sudah terlanjur jatuh cinta sungguhan dengan Luna.
Teryadi menghela napas lagi. Panjang dan berat Lalu berdecak pelan. Mungkin dia harus mencari waktu yang pas untuk membicarakan persoalan ini dengan Tiara. Karena dia sudah ingin melepas masa dudanya. Dan dia juga sudah berjanji kapada Luna, akan menikahi wanita itu secepatnya. Dan Luna juga ingin bertemu dengan Tiara. Ingin melakukan pendekatan dengan calon anaknya.
Tapi Teryadi yang tidak yakin. Kalau Tiara akan bersikap ramah ke Luna. Kepergian Tiara ke paris adalah tujuan untuk menenangkan pikiran anaknya. Karena Tiara selalu di ledek teman-temannya tidak mempunyai seorang ibu. Dan hal itu Membuat Tiara semakin menyayangi ibunya. Jadi dia takut Tiara tidak bisa melupakan ibu kandunganya. Dan tidak akan membiarkan posisi ibunya tergantikan dengan siapa pun.
Tiba-tiba HPnya berbunyi. Memperdengarkan ringtone panggilan masuk.
"Halo?" sapa Teryadi di telepon.
”Selamat siang, Pak." jawab asisten pribadinya, Dina.
"Selamat siang. Ada apa, Din?"
"Pak, sekarang ada meeting dengan klien jam satu siang. Saya takut Pak Adi lupa." katanya mengingatkan dengan nada sopan.
Teryadi mengangguk-angguk. Saking seriusnya berpikir. Dia sampai lupa, kalau sekarang ada jadwal meeting dengan klien. "Oh, ya. Terima kasih."
"Sama-sama, Pak."
"Kamu sudah mempersiapkan proposal yang harus kita persentasikan nanti di meeting?"
"Sudah, Pak." di seberang Dina tersenyum sambil mengecek ulang persiapan untuk meeting nanti. "Semua persiapan sudah saya cek ulang, Pak. Semuanya sudah siap. Tidak ada yang kurang." lanjutnya mantap.
"Oke kalo begitu. Saya ke kantor sekarang." jawabnya sambil memacu mobilnya lebih cepat. Menuju kantornya. Karena sekarang jam sudah menunjukan pukul 11:30.
"Baik, Pak."

***
"Hmm... Nik!" Tiara mencegah kepergian Niko dengan cara memegang lengannya.
Niko menoleh dan menatap Tiara dengan kedua alis terangkat tinggi sesaat. Lalu gerakan matanya langsung tajam tertuju ke tangan yang menyentuh dirinya.
Tiara langsung mengerti, kalau tindakannya salah. Salah besar menurut kaca mata cowok cuek itu. "Sori." katanya kikuk sambil melepaskan tangannya.
Niko mengangkat kedua alisnya. "Kenapa?" tanyanya datar.
"Hmm..." Tiara menggarukan kepalanya yang tidak gatal. Lalu berdecak pelan. Wajahnya sudah agak-agak di warnai dengan warna merah padam. "Ngg..." dia berdecak lagi. Aduuuh! Gimana nanyanya ya? Malu banget gue nih, ucapnya dalam hati. Bingung.
"Lo mau ngomong nggak sih?" Niko mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Gusar menunggu teman sebangkunya berbicara. "Gue lagi di tunggu Pak Ahmad di ruangannya nih." lanjutnya beralasan. Biar cepet pergi. Supaya dia bisa menyalurkan penyakit malasnya di taman belakang sekolah.
"Hmm..." Tiara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Menahan wajahnya yang mulai memerah. "Ng... to... toilet... di... mana sih?" tanyanya tergeragap sambil agak menundukan kepala.
Niko mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi. Sesaat dia tertegun Lalu mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Menahan tawanya untuk tidak muncrat keluar. "Nanya gitu aja lama banget!" cibirnya sambil menahan nada gelinya.
Tiara langsung memanyunkan bibirnya beberapa senti. Kalo nggak kebelet banget, cibirnya dalam hati. Ogah! Gue nanya ama lo!
"Mau ke toilet?" Niko menatap Tiara dengan agak-agak geli di kedua matanya.
Tapi karena Tiara sudah terlanjur mencap teman sebangkunya sebagai patung bernyawa, wajah tanpa ekspresi, arca kokoh. Jadi dia luput menangkap tatapan geli dari kedua mata Niko. Perlahan dia mengangguk-angguk.
"Yuk, ikut gue!" ajaknya santai sambil melangkahkan kakinya terlebih dahulu.
"Kan gue cuma nanya letaknya." balasnya polos.
"Kita searah. Sekalian aja." jawabnya santai sambil lalu.
"Lho, ruang guru bukannya...?" Tiara langsung merapatkan bibirnya rapat-rapat. Ketika sepasang mata tajam itu mengarah ke arahnya lurus-lurus. "Yaudah deh." putusnya akhirnya. Daripada keluarnya di sini. Bisa langsung terjun bebas dia. Saking malunya.
Niko semakin mengatupkan sepasang bibirnya rapat-rapat. Menahan tawa gelinya melihat Tiara. Hampir saja dia tidak kuat. Karena melihat wajah tiara yang merah. Wajah Tiara menjadi lucu. Sangat lucu dan gemas. Membuat dia ingin mencubit satu saja pipi cewek itu. Manis, katanya dalam hati tanpa sadar sambil tersenyum.
"Nih, toilet cewek." kata Niko setelah sampai di depan toilet cewek.
Tiara mengangguk-angguk. "Terima kasih." katanya cepat. Soalnya dia benar-benar kebelet buanget. Kalau kata orang nih, sudah di ujung tanduk.
Tiba-tiba Niko meraih tangan Tiara dengan santai. Tiara menghadapkan lagi tubuhnya ke wajah cowok tak beremosi itu.
"Kenapa lagi?" tanya Tiara kayak cacing kepanasan. Ah, elah! Nggak tau gue lagi kebelet, apa!?, omelnya dalam hati.
"Lo tau jalan balik ke kelas, kan? Nggak perlu gue tungguin, kan?" godanya dengan ekspresi sedatar mungkin. Seolah-olah pertanyaan tadi adalah pertanyaan yang suangat-suangat wajar. Tapi dalam hati dia sudah tertawa geli. Melihat tampang Tiara yang persis seperti baru ketangkap basah nyolong duit.
Tiara ternganga. Tercengang. Terkesima dengan pertanyaan itu. Dan sgak malu juga sih. Soalnya pertanyaan itu bisa di bilang pertanyaan sensitif. Kalau di tempat lain sih nggak masalah. Tapi ini masalahnya di toilet. Toilet! Dan cowok di hadapannya melontarkan pertanyaan itu dengan sangat-sangat datar. Seolah-olah dia hanya berniat membantu. Membantu tapi membuat malu. And shame you could say sensitive.
Perlahan Tiara menggelengkan kepalanya dengan kikuk. Dan wajahnya pun memerah. "Gue bisa balik ke kelas sendiri kok. Lo juga nggak perlu nungguin gue." jawabnya agak belepotan. Karena gugup menjawab pertanyaan itu.
Niko mengangguk-angguk cuek. "Oke kalo begitu.” katanya santai sambil mengangkat kedua bahunya sesaat. Lalu langsung ngeloyor pergi begitu saja.
Tiara menatap punggung Niko sampai menghilang tanpa berkedip. Masih terkesima dengan sikap cowok itu. "Aneh!" ujarnya singkat. Lalu cepat-cepat dia berlari memasuki toilet. Soalnya benar-benar sudah kebelet buanget. Sedetik lagi mungkin sudah keluar begitu saja.

***
"Weits, mas bro!" Rahman menepuk bahu Vino dengan lumayan keras. "Kenapa lo ngelamun aja?" tanyanya sambil menyeringai lebar.
Teman-teman tim basket lainnya langsung mengangguk-angguk sambil agak-agak tersenyum geli.
Vino mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Lalu bibirnya menyunggingkan senyum lebar. "Gue lagi mikirin lo nih, Man." jawabnya bercanda dengan nada genit.
Rahman ternganga mendengar jawaban gila itu. Sumpah! Syok beneran. Nggak bohongan. Asli! Mulutnya sampai ternganga lebar.
"Wah, ckckck. Kacau! Kacau! Kacau!" Trian menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tampang perihatin. "Gue nggak nyangka ternyata kalian..." dia menatap Vino dan Rahman bergantian dengan sinar takjub sambil menahan seringai gelinya.
"Ternyata lo berdua homo! Parah!" Andi langsung menimpali. "Pantesan lo berdua nggak pernah serius sama cewek!"
"Berita heboh nih!" Nando menatap Vino dan Rahman bergantian. Seakan-akan mereka telah melakukan tindakan kriminal tak termaafkan. "Seorang Vino Adrian Hatamo dan Rahman Siregar ternyata selama ini homo! Ckckck."
Rahman langsung menjitak kepala-kepala yang tadi memberikan pendapat seenak jidat. "Enak aja lo-lo pada! Gue nih nggak homo. Gue jantan tujuh turunan, tau!" hardiknya sambil bertolak pinggang. Dan memasang tampang garang.
Ketiganya langsung menyeringai geli bersamaan. Begitu juga dengan Vino. Bahkan cowok itu sampai cekikan geli.
"Tampang kayak gue homo! Tampang kayak gue pejantan sejati!" lanjut Rahman yang masih tidak terima di bilang sekong apalagi homo. Sampai tujuh turunan sepanjang abad dunia akhirat, itu benar-benar tidak bisa di maafkan.
Cowok-cowok yang berada di sekretariat basket langsung tertawa geli berbarengan. Vino yang paling geli tawanya di antara teman-teman lainnya.
"Udah. Kalian ini cuma bisanya ketawa doang! Ini bercandaan serius, tau. Kalo ada orang yang denger. Pamor gue kan bisa turun drastis." kata Rahman dengan logat bataknya sambil menduduki salah satu kursi di sekretariat basket.
"Oke. Oke." Vino menyudahi. "Gue kalo mau homo juga liat-liat kali, Man. Tampang narapidana kayak lo. Nggak mungkin gue ajak homo. " tanggapnya sambil cekikan geli.
“Heh!” seketika Rahman melengos ke arah lain.
"Hahaha..." langsung saja cowok-cowok di ruangan sekretariat basket tertawa geli.
"Emangnya lo lagi mikirin apa kapten?" tanya Verdy khidmat. Seakan-akan Vino adalah pangeran dari kerajaan dongeng.
Vino menggeleng-geleng sambil tertawa. "Nggak papa."
Verdy dan yang lainnya mengangguk-angguk.
"Oh, iya. Gue denger-denger lo lagi nyoba deketin anak baru itu ya?" tanya Dika santai. "Tadi pagi katanya lo nyamperin tu cewek ke kelasnya."
Vino mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Lalu mengangguk-angguk sambil tersenyum tipis.
"Gimana? Udah dapet?" tanya Riski sambil mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.
"Boro-boro." jawabnya sambil tertawa. "Susah deketin tu cewek!"
"Waow... seorang Vino Adrian Hatamo bilang susah deketin cewek. Imposible! Ckckck." ujar Rahman dengan tampang yang di buat takjub.
"Hahaha..." Vino tertawa kecil. "Dia cewek paling galak, judes, jutek yang gue kenal! Pokoknya dia bener-bener langka menurut gue." katanya dengan nada serius.
"Masa sih?" Rahman mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi. Tidak percaya.
"Nggak percaya?" ganti Vino yang mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi. "Coba lo deketin aja. Kalo nggak kena libas lo! Hahaha..."
Rahman langsung mencibir singkat.
"Tapi... karena sifat tu cewek kayak gitu. Gue jadi tertantang untuk bisa mendapatkannya." lanjut Vino sambil memikirkan cara yang jitu banget untuk bisa membuat Tiara tunduk kepada dirinya. "Gue butuh bantuan kalian." katanya sambil menatap wajah-wajah yang berada di ruang sekretariat basket.
"Gileeeee, mimpi apa gue semalem ya? Sampe-sampe Vino minta bantuan gue masalah cewek. Bayangin dong! Masalah cewek!” kata Dimas sambil membelalakan kedua matanya dan memakai nada yang benar-benar takjub gila! Sumpah! Membuat keadaan menjadi sok dramatisir. “Ckckck." lanjutnya sambil menyeringai lebar.
"Hahaha... khusus untuk cewek yang satu ini..." Vino menggantungkan kalimatnya sejenak sambil menatap dinding di hadapannya lurus. Seakan-akan di dinding itu ada Tiara yang siap di terkamnya. "Gue perlu bantuan kalian!"
Rahman menepuk-nepuk bahu Vino. "Bantuan apa yang elo mau?" tanyanya sambil mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.
Vino tersenyum misterius sambil mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Sesaat di pandanginya wajah teman-temannya dengan ekspresi serius. Namun nadanya tak terbaca Lalu menjelaskan rencananya. Sedetail mungkin.

Rabu, 28 Desember 2011

I'm Not For You #part 1


"Papa, jemput aku sekarang, kan?" tanya seorang gadis remaja di telepon sambil menarik kopernya di airport. "Iya, aku udah sampe di Indonesia. Aaaahh, nggak mau. Maunya papa yang jemput." ucapnya manja. "masa papa nggak kangen sih sama aku? Kita kan udah lama nggak tinggal bareng. Aku aja kangen banget sama papa." katanya dengan nada yang di buat sedih. "Jadi papa bener-bener nggak bisa jemput sekarang?" tanyanya sekali lagi. "Iiihh, papa lagi ngerjain aku ya?" lanjutnya sambil tertawa melihat ternyata papanya sudah berdiri sambil tersenyum dan menatapnya di dekat kursi tunggu. Lalu di matikan teleponnya. Dan berlari menuju papanya.
Teryadi, papa dari gadis remaja itu pun merentangkan kedua tangannya. Lalu memeluk anak tunggalnya.
"Aku kangen banget sama papa." ucap Tiara manja.
"Papa juga kangen banget sama kamu tiara." jawabnya sambil mengelus rambut anaknya.
"Aku kira papa serius nggak dateng jemput aku."
"Hahaha..." Teryadi pun tertawa. "Papa cuma bercanda kok."
"Iiihh, papaaa." Tiara memukul bahu papanya dengan pelan.
Teryadi pun tertawa. "Yuk, kita pulang!" ajaknya sambil membawa koper anaknya.
Tiara mengangguk-angguk sambil tersenyum. Selama di perjalanan dia menceritakan pengalamannya di Paris. Teryadi pun mendengarkan dengan sangat antusias.

***
"Oke! Tiara, sekarang waktunya lo masuk ke sekolahan baru lo." kata Tiara sambil tersenyum lebar ke pantulan dirinya di cermin.
Setelah sesaat Tiara memastikan penampilannya sudah oke. Dia melangkahkan kakinya menuju ranjangnya. Di raihnya tas sekolahnya dari sana. Lalu melangkah lagi keluar kamar.
"Morning, Pa!" sapa Tiara kencang ketika dilihatnya papanya sedang asik membaca korang sambil meminum segelas kopi di meja makan.
Teryadi menoleh sambil tersenyum ke putrinya. "Morning, sayang."
Tiara menduduki salah satu kursi makan. Lalu meraih sehelai roti. Di berinya selai strawbery di atas roti tersebut.
"Ada berita apa pagi ini, Pa?" tanya Tiara sambil mengunyah rotinya.
"Biasa. Korupsi." jawabnya singkat. Lalu meminum kopinya.
Tiara mengangguk-angguk. Lalu melirik ke jam tangannya. Sudah pukul 6 tepat. Dia harus segera berangkat ke sekolah barunya. Karena masih harus mengurus ini-itu terlebih dahulu.
Tiara meraih tas sekolahnya sambil meminum susu coklatnya. "Pa, aku berangkat dulu ya." katanya sambil mencium pipi kanan-kiri papanya.
"Nggak perlu papa anter, kan?" godanya sambil menyeringai lebar.
"Nggak lah. Aku udah gede, tau!" jawabnya sambil memanyunkan bibirnya beberapa senti sesaat. "Lagian aku juga di anter sama Pak Lanang sekarang. Nanti kalo aku udah apal jalanannya. Aku juga bakal bawa mobil sendiri."
"Bahaha... iya." Teryadi mengangguk-angguk. "Yaudah, kamu berangkat, gih. Nanti kamu telat lho."
"Oke deh, Pa. Daaah." katanya sambil melambaikan tangan ke papa tercintanya.
Teryadi tersenyum. Setelah melihat anak tunggalnya sudah menghilang. Dia meraih HPnya di saku kemejanya. Lalu di tekannya beberapa nomor.
"Halo, sayang?" sapa Teryadi di telepon.
"Halo, Mas." sapa balik seorang wanita dengan manis.
"Aku jemput sekarang ya, Lun?" tawarnya sambil melipat korannya.
Wanita yang bernama Luna di seberang mengangguk-angguk. "Iya, Mas. Aku tunggu."
"Oke. Salam buat Lia ya."
"Iya, Mas. Pasti."
Klik! Telepon di tutup.
Teryadi tersenyum lebar sambil memasukan HPnya ke saku celananya.  Lalu di habiskannya kopinya yang tinggal setengah. Kemudian di pakaianya jas kantornya yang sejak tadi tergantung di sandaran kursi. Lalu melangkahkan kakinya sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

***
"Ini kelas kamu Tiara." kata Bu Helni, wali kelas Tiara yang baru.
Tiara mengangguk-angguk melihat kelasnya. Bersih. Tidak ada coretan sama sekali. Baik di meja maupun di dinding. "Makasih, Bu." jawabnya sopan.
Bu Helni mengangguk-angguk. Lalu mengetuk pintu kelas XI-3. Meminta izin kepada guru yang sedang mengajar untuk memberikan waktunya sedikit kepada Tiara untuk memperkenalkan diri.
Pak Toro, guru yang sedang mengajar pun mengangguk-angguk. Setelah tahu maksud dan tujuan Bu Helni datang ke kelas yang sedang di ajarnya.
"Masuk, Tiara." perintah Bu Helni.
Tiara melangkahkan kakinya dengan percaya diri memasuki kelasnya yang baru. Lalu menghadapkan tubuhnya ke murid-murid yang sedang menatapnya dengan pandangan takjub.
Saat Tiara memasuki kelas, tiba-tiba suara menjadi hening total. Banyak yang mengagumi kecantikan Tiara. Bahkan tidak sedikit yang melontarkan kalimat pujian dengan nada pelan. Tapi seketika suara-suara membahana langsung memenuhi ruangan kelas.
"Gila! Cantik banget!" teriak Edgar nyablak sambil bersiul nyaring.
"Bukan cantik benget lagi, Gar! Tapi cantik buanget buanget buanget!" ralat Ragil yang duduk di barisan depan.
"Hidungnya mancung banget lagi! Buseeet, hidung gue di colong tuh pasti." lanjut Firman yang memang suka sensitif melihat orang lain memiliki hidung mancung. Soalnya hidungnya sendiri mancung juga. Tapi mancung ke dalam.
"Huuuuuuu......" langsung teriakan protes membahana di kelas XI-3.
"Hidung tu cewek tuh murni. Ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Enak aja lo asal maen fitnah nyolong hidung lo!" balas Iman yang terkadang memang suka religius.
"Sudah. Sudah." Bu Helni menggebrak-gebrak meja dengan keras. "Kalian berisik banget sih! Diam semua!" omelnya. Lalu menoleh ke Tiara.
Tiara yang sejak tadi terpana melihat antusias dari calon-calon teman barunya pun terkesima. Tapi tidak lama. Lalu dia tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Norak!, katanya dlm hati. Merasa lucu dengan murid-murid di sini yang norak sekali. Tidak seperti teman-temannya di Paris.
"Silahkan kamu memperkenalkan diri, Tiara." kata Bu Helni sambil mempersilahkan Tiara memperkenalkan diri.
Sesaat Tiara mengangguk-angguk sopan sambil tersenyum ke Bu Helni. Lalu menatap sekelilingnya yang masih menatapnya dengan takjub. Seakan-akan dirinya adalah bidadari yang turun dari langit ke tujuh. Membuat dirinya susah menahan tawanya.
"Oke! Nama gue Mutiara Anastasia Teryadi. Kalian bisa manggil gue Tiara. Gue pindahan dari paris. Gue harap, kalian bisa menerima gue sebagai anggota baru di kelas sebelas tiga. Senang berkenalan dengan kalian." ucap Tiara percaya diri sambil tersenyum. "Ada pertanyaan?" tanyanya.
Cowok-cowok sekelas langsung menggangguk-angguk bersamaan.
"Nomer teleponnya berapa?"
"Nama e-mailnya apa?"
"Tinggalnya di mana?"
"Udah punya pacar belom?"
Tiara mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi mendengar pertanyaan tidak etis itu terlontar begitu saja. Tapi tidak satu pun ada yang di jawabnya pertanyaan gila itu.
"Sudah. Diam kalian semua!" Bu Helni menggebrak meja dengan keras lagi. Merasa malu memiliki murid-murid stres kayak begini. "Kamu silahkan memilih tempat duduk kamu sendiri, Tiara."
Tiara menatap berkeliling dengan tajam. Bingung harus memilih tempat duduk yang mana. Karena dilihatnya murid-murid cowok berusaha menarik perhatiannya untuk duduk sebangku dengan mereka. Dia berdecak pelan. Tapi tiba-tiba dia menghentikan gerakan matanya di salah satu cowok teman sekelasnya yang sejak tadi cuek dengan keriuhan kelas karena kedatangannya. Cowok itu hanya menatapnya tanpa ekspresi. Bahkan cowok itu lebih asik dengan buku di atas mejanya.
Tiara mengangguk-angguk. Duduk sebangku dengan cowok itu sepertinya lebih aman. Daripada harus duduk sebangku dengan cowok-cowok mata keranjang di sekelilinya. Lalu dia menghampiri cowok itu dengan senyum lebar. Tapi cowok itu sama sekali tidak tersenyum ke arahnya. Bahkan menoleh pun nggak!
Tiara sudah sampai di hadapan cowok itu. Tapi kehadirannya sama sekali tidak di gubris dengan cowok di hadapannya. Sombong banget sih ni cwo, umpatnya dalam hati. Agak kesal. Tapi dia mencoba menyabarkan hatinya.
Sambil tersenyum manis Tiara menyapa cowok di hadapannya. "Hai."
Cowok itu mendongakan kepalanya. Lalu kedua alis tebal itu menyatu. Tapi hanya sesaat. "Hai juga." balasnya cuek.
Tiara ternganga. Baru pertama kali ada yang secuek ini dengan dirinya. Gila banget! Tapi cepat-cepat di ubahnya raut wajahnya secepat kilat. "Boleh gue duduk di sini, kan?" ditunjuknya satu bangku kosong di sebelah cowok itu.
Cowok itu menoleh sekilas ke bangku di sebelahnya. Lalu meraih ranselnya yang bertengger manis di kursi kosong itu. Di pindahkannya ke kolong laci mejanya tanpa mengucapkan apa pun.
Tiara mengercitkan dahinya. Bingung. Dia di perbolehkan duduk di sini atau tidak sih. Karena cowok itu tidak mengucapkan apa pun. Dengan ragu—karena tidak mau mengulur waktu—akhirnya dia menduduki bangku kosong itu dengan canggung. Lalu melepaskan tasnya. Dan di taruhnya di kolong meja.
Tiara mencoba bersikap ramah lagi. Di ulurkannya satu tangannya di titik pandang cowok itu sambil tersenyum manis. "Tiara." katanya ramah.
Cowok itu melirik sekilas dengan pandangan dingin ke tangan Tiara. Lalu mengangkat kedua alisnya dengan cuek. "Niko." jawabnya cuek tanpa menjabat tangan Tiara.
Tiara terbelalak lebar. Mulutnya sudah benar-benar ternganga. Takjub dengan adanya cowok secuek ini. Sumpah cuek banget! Bahkan dirinya jadi bingung sendiri. Sebetulnya nih orang emang cuek atau sombong ya?
Akhirnya karena malu, Tiara menarik lagi tangannya dengan kikuk. Lalu menghela napas. Kesal. Sebal. Dongkol. Malu. Dan berusaha untuk meredam emosinya. Lalu dia mengalihkan wajahnya ke papan tulis yang sudah di penuhi dengan materi pelajaran.

***
Bel istirahat berbunyi!
Niko menutup buku yang sedari tadi di bukanya. Lalu memasukan ke dalam ranselnya. Kemudian dia berdiri dan melangkahkan kakinya sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya.
Tiara mendumel dalam hati melihat tingkah laku angkuh cowok yang bernama Niko itu. Sombong banget. Padahal baru setengah hari dia duduk sebangku dengan cowok itu. Tapi dia sudah merasa tidak betah duduk sini. Dan cepat-cepat ingin mengundurkan diri dari sini. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Daripada duduk sebangku dengan cowok-cowok cablak kayak mereka itu. Lebih baik dia bertahan di sini.
Belum sempat Tiara berdiri dari bangkunya untuk melihat-lihat sekolah barunya. Cowok-cowok teman sekelasnya langsung menghampirinya. Dengan tampang yang membuat dirinya takut.
"Tiara mau ke mana? Aku ikut ya?"
"Tiara mau liat-liat ya? Aku temenin ya?"
"Tiara harus cobain makanan kebangsaan sekolah kita! Bakso buatin bu kantin!"
"Tiara harus liat taman belakang sekolah kita yang indah buanget. Yang biasa di pakai untuk tidur. Hehehe..."
Tiara langsung bingung harus menjawab apa. Dia jadi takut melihat cowok-cowok di hadapannya sangat antusias. Kedua matanya bergerak cepat mengikuti sumber suara dengan tampang bloon. Gelisah, di gigitnya menggigit bibir bawahnya. Ingin cepat-cepat pergi dari sini. Tapi bingung gimana caranya.
Niko memberhentikan langkahnya seketika. Ketika di dengarnya teman-temannya menggoda Tiara. Lalu dia membalikan tubuhnya. Menatap Tiara dengan kedua alis terangkat tinggi. Tadinya sih dia mau cuek aja. Tapi dia tidak tega melihat tampang Tiara yang sudah seperti ingin di rampok saja. Dia sangat tahu sifat teman-teman cowoknya yang tidak bisa melihat cewek bening dikit. Langsung di sosor.
Niko berdecak pelan. Lalu menghampiri Tiara yang masih duduk di bangkunya dengan tampang bingung. Setelah berhasil menyeruak teman-temannya yang sudah berkumpul seperti mengantri sembako. Dia langsung meraih tangan Tiara dan menariknya ke dalam pelukannya. Lalu dibawanya Tiara pergi.
"Huuuuuuuu......." langsung sorakan yang kencang di terima Niko.
"Curang lo, Nik!"
"Tau lo! Bagi-bagi dong!"
"Jangan mentang-mentang tu cewek lebih milih sebangku dengan lo. Lo bisa nguasain tu cewek!"
Yang lainnya langsung membenarkan dengan tampang serius. Bahkan tingkat keseriusan mereka melebih tingkat keseriusan di kelas.
Niko menoleh sesaat. Lalu menyeringai lebar sambil mengedipkan satu matanya. "Reward." balasnya singkat. Lalu dia meneruskan melangkahkan kakinya. Tidak di pedulikan lagi sahutan-sahutan sarap teman-temannya.
Niko melepaskan pelukannya di tempat yang menurutnya sudah aman. Diliriknya cewek di sebelahnya yang sejak tadi masih diam dengan tampang bingung sesaat. Lalu dia melangkahkan kedua kakinya dengan cuek.
"Makasih." ucap Tiara sambil menahan tangan Niko.
Niko menoleh dan menatap Tiara. Di angkatnya kedua alisnya tinggi-tinggi sambil mengangguk-angguk cuek. Lalu melangkahkan kedua kakinya sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya.
Tiara memandang punggung Niko yang bergerak menjauh dengan kedua mata melebar. "Sumpah! Suara tu cowok mahal banget kali ya. Ckckck." cibirnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan takjub. Takjub, karena ada cowok yang cueknya minta ampuuuuuuun kayak gitu. Sesaat dia hanya terpana menatap punggung Niko yang sudah mulai menghilang. Lalu melangkahkan kakinya sambil melihat-lihat sekelilingny. "Gue ada di mana nih?" tanyanya bingung sambil menggarukan kepalanya yang tidak gatal. Namun tiba-tiba...
BUUUK!!!
"Shit!" seorang cowok yang shut-nya meleset jauh menepuk dahinya dengan kencang. Lalu dia berlari. Menghampiri korbannya yang jatuh. Dengan cepat dibantunya cewek itu berdiri. Sesaat dia mengerutkan kedua alisnya. Merasa belum pernah melihat cewek ini sebelumnya. "Sori. Sori, gue nggak sengaja." katanya bersalah sambil mendirikan tubuh cewek itu.
Tiara memijit-mijit kepalanya dengan satu tangannya secara perlahan. Lalu dia memejamkan kedua matanya sesaat. Kepalanya terasa pusing dan berat. Sial benget sih gue hari ini, kelunya dalam hati. Kesal. Padahal sekarang hari pertamanya masuk ke sekolah barunya.
Vino, cowok yang tidak sengaja mengenai bola basket ke kepala Tiara merasa bersalah. Lalu dia mendekati cewek itu secara perlahan. Kemudian dia mengulurkan kedua tangannya untuk menyentuh kepala cewek di hadapannya.
"Lo nggak papa, kan?" tanyanya sarat dengan kekhawatiran sambil memijit-mijit kepala Tiara.
Tiara langsung mengenyahkan tangan yang berada di kepalanya. Lalu mundur selangkah untuk melihat siapa orang yang sudah membuat kepalanya berat seperti ini. Di angkatnya kedua alisnya tinggi-tinggi. "Nggak papa. Nggak papa. Lo nggak liat pala gue benjol gini!?" hardiknya sengit sambil menunjuk-nunjuk kepalanya. "Pake mata dong kalo maen basket! Bisa maen nggak sih lo sebenarnya!?" lanjutnya sambil melototi cowok di hadapannya tajam-tajam.
Vino ternganga lebar mendengar cewek di hadapannya marah-marah ke dirinya. Apa tadi tu cewek bilang? Bisa maen basket nggak sebenarnya? Cewek itu nggak tahu, apa!? Kalau dirinya adalah peraih piala lomba basket antar sekolah tiap tahunnya. Tidak pernah ada kata kalah dalam kamus dia dalam permainan basket.
"Nggak usah maen kalo nggak bisa!" ucap Tiara lagi. Lalu melangkahkan kakinya sambil menabrak satu bahu cowok itu keras-keras. Lalu ngeloyor begitu saja.
Vino terhuyung sedikit dengan mulut yang masih ternganga. Lalu dengan cepat membalikan tubuhnya. Melihat punggung cewek itu yang bergerak menjauh. Tanpa sadar, dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan takjub. Bahkan mulutnya belum tertutup sejak tadi. Baru pertama kali dia di hina seperti ini. Sama cewek lagi. Cewek yang tidak di kenal pula. Sumpah kerasa buanget!
Tiba-tiba Vino merasakan seseorang menepuk bahunya pelan. Dia melirik sekilas ke cowok di sebelahnya. Lalu mengarahkan lagi tatapannya ke punggung cewek itu yang masih bisa dilihatnya.
"Siapa sih tu cewek?" tanya Vino tanpa kedua matanya teralih.
Alan mengerutkan dahinya sesaat. Dilihatnya punggung cewek yang menjadi korban Vino lurus-lurus. Lalu dia mengangkat kedua alisnya sesaat. Sepertinya dia mengenali cewek itu. Tanpa sadar, dia mengangguk-angguk. Tahu siapa cewek itu. Karena tadi dia sempat mendengar, kalau ada anak baru di kelas XI-3. "Namanya Tiara. Anak baru di kelas sebelas tiga. Baru sekarang tu cewek masuk."
"Anak baru?" Vino menoleh ke Alan sambil mengangkat kedua alisnya sesaat. Lalu menoleh ke tempat cewek itu menghilang. "Pantesan dia nggak kenal gue." katanya sambil tersenyum licik.
"Hahaha...” Alan tertawa. “Kenapa?"
"Nggak papa." Vino tertawa kecil. Lalu meraih bola basketnya. "Yuk!" ajaknya sambil menepuk satu bahu Alan dengan pelan.

***
Tiara meraih HPnya di dalam tas sekolahnya. Bel pulang sudah berbunyi. Tadi dia sudah memberitahu Pak Lanang untuk tidak usah menjemput dirinya. Karena dia ingin di jemput sama teman lamanya.
"Ram, lo di mana? Gue udah balik nih." kata Tiara di telepon. "Di jalan? Oh, yaudah. Cepatan ya. Panas banget nih! Hahaha... iya. Iya. Oke deh. Daaah, Rama." lanjutnya sambil menyeringai lebar. Lalu telepon di matikan.
Tiara memasukan HPnya ke dalam saku kemejanya. Lalu berdiri di depan gedung sekolah. Untuk menunggu kedatangan Rama, teman lamanya. Dia kangen sekali dengan cowok itu. Sudah dia lama tidak bertemu. Mungkin kurang-lebih sudah enam tahun tidak bertemu cowok itu. Dia hanya berkomunikasi lewat teknologi. Dah hal itu jelas sangat-sangat tidak puas.
Tiba-tiba Tiara mengarahkan kedua matanya dengan tajam ke motor ninja warna merah di parkiran motor. Kedua alisnya terangkat tinggi. Dilihatnya cowok cuek itu sedang memakai helm dan jaket. Lalu menaiki motor merah ninja itu.
Tiara menatap Niko lurus-lurus dan tajam. Tanpa sedikit pun berkedip. Cowok itu benar-benar cuek banget ternyata. Sama sekali tidak peduli dengan sekitarnya. Dia rasa, meskipun di depan matanya ada tsunami berkekuatan sepuluh skalaliter, cowok itu tetap tidak akan peduli.
Tiara semakin menajamkan penglihatannya. Tadi dia sempat mendengar pembicaraan cewek-cewek di kelasnya. Kalau Niko memang cuek banget orangnya. Nggak cewek nggak cowok. Semuanya sama aja. Bahkan—menurut pendengarannya lagi—Niko pernah di kejar-kejar sama senior cewek paling cantik. Tapi cowok itu juga tetap tidak peduli. Bahkan benar-benar tutup telinga plus tutup mata. Akhinya senior cewek tersebut merasa sangat-sangat lelah. Karena tidak pernah di anggap sama Niko. Dan cewek itu pun pergi dengan sendirinya. Dan Niko jelas tidak peduli. Malah mungkin cowok itu bersyukur banget.
Tiba-tiba mobil Toyota Zelas warna silver berhenti tepat di hadapan Tiara. Membuyarkan pandangannya yang mengarah lurus-lurus ke Niko. Refleks dia memundurkan langkah. Lalu mengerjap sesaat. Kemudian dia mengarahkan kedua matanya ke kaca mobil itu. Ingin tahu siapa orang yang sudah mengganggunya. Dan siap untuk menghardik orang itu.
Perlahan kaca mobil terbuka. Memperlihatkan pemilik mobil tersebut. Dia menaruh satu tangannya di ambang jendela sambil membuka kaca mata hitamnya. Lalu menoleh ke Tiara sambil tersenyum lebar.
"Hai." katanya lembut sambil turun dari mobil.
Tiara menyatukan kedua alisnya. Sepertinya dia mengenali wajah orang itu. Tapi di mana ya? Dia semakin merapatkan kedua alisnya sambil meneliti wajah orang di hadapannya. Tiba-tiba dia ingat wajah orang itu. Orang itu kan yang melempar bola basket sampai mengenai kepalanya. Cowok itu yang sudah membuat kepalanya sedikit benjol seperti ini.
Ngapain tu orang ke sini?, tanya Tiara dalam hati. Kesal. Lalu dia melipat kedua tangannya di depan dada sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Malas melihat wajah cowok di hadapannya. Yang sudah membuat moodnya jadi tidak enak seperti ini.
Vino tersenyum tipis. Karena sapaannya tidak di jawab sama Tiara. Hal itu membuatnya benar-benar gemas. Belum pernah dia di cuekin seperti ini. Apalagi sama seorang cewek. Biasanya cewek-cewek akan langsung membalas sapaannya. Tapi cewek ini? Benar-benar membuat dirinya penasaran. Dan menargetkan dia harus bisa mendapatkan anak baru ini. Harus!
"Anak baru ya?" tanya Vino lembut. Dengan tatapan yang menghangatkan. "Kelas berapa?"
Tiara mencibir sesaat. Basi!, umpatnya dalam hati. "Udah tau ngapain nanya!" jawabnya judes.
Ni cewek bener-bener bikin gue penasaran, ucap Vino dalam hati sambil bersiul panjang. Sekarang baru dia dapatkan mangsa yang benar-benar mengasikan. Menantang. Tapi dia sangat-sangat menyukai itu.
"Gue Vino. Kelas dua belas lima." kata Vino sambil mengulurkan satu tangannya dan memamerkan senyum khasnya.

Tiara melirik sekilas ke uluran tangan itu sambil mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. "Tiara." jawabnya tanpa menjabat tangan cowok di hadapannya. Dia tahu banget trik-trik playboy seperti ini. Sudah hapal. Jadi salah kalau cowok yang bernama Vino ini ingin bermain-main dgnnya. Salah besar!
Vino menarik tangannya kembali sambil mengangkat kedua bahunya sesaat. Lalu kedua matanya mengarah lurus-lurus ke cewek di hadapannya. Tidak salah di kelas XI-3 heboh dengan kedatangan Tiara. Mungkin sebentar lagi satu sekolah akan memuji-muji Tiara. Soalnya Tiara benar-benar cantik. Kulitnya mulus bersih, terlihat sama sekali tidak ada noda. Kedua matanya agak sipit dengan di hiasi kedua alis yang tipis juga. Hidungnya mancung. Sepasang bibirnya tipis dan merah—bukan sejenis merah yang di kasih lipstik atau lipgos—tapu merah yang benar-benar asli. Dan rambut cewek itu panjang lurus sepinggang.
"Kenapa lo liatin gue kayak gitu!?" sentak Tiara yang sejak tadi melihat Vino memperhatikan dirinya sudah seperti dia adalah cewek boyish yang terpental ke sini.
Vino menghentikan meneliti lekukan di wajah Tiara. Lalu tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Nggak papa." jawabnya sambil menatap lurus ke kedua manik mata di hadapannya. Kedua manik mata itu berwarna coklat. Indah. "Mata lo indah. I like it." tiba-tiba kata-kata itu keluar begitu saja tanpa bisa di hentikan.
Tiara membelalakan matanya. Mulutnya sudah ternganga lebar. Tidak terima dengan ucapan cowok di hadapannya—yang menurutnya—sudah sangat-sangat kurang ajar. "Sori ya, kalo lo ke sini cuma mau ngomong hal-hal yang nggak penting. Mendingan lo pergi! Gue nggak ada waktu untuk ngurusin lo." Hardiknya sambil mengarahkan kedua matanya tajam-tajam ke Vino.
Vino mengangkat kedua alisnya. Merasa aneh dengan sikap Tiara yang tiba-tiba saja memarahinya. Biasanya jika dia melontarkan pujian apa pun ke cewek-cewek. Cewek-cewek itu akan langsung klepek-klepek sama pujiannya. Dan akan langsung mengucapkan terima kasih dengan wajah yang memerah. Tapi ini, benar-benar beda dari yang lain. Dia semakin merasa tertantang untuk memilikinya.
"Sori." ucap Vino kemudian dengan nada yang terdengar bersalah. "Gue nggak bermaksud kurang aja sama lo kok. Gue serius, mata lo indah."
"Heh!" Tiara melengos ke arah lain dengan malas. "Basi!" lanjutnya singkat.
Vino tersenyum tipis. Sepertinya dia harus lebih menyabarkan hatinya untuk cewek ini. Karena cewek ini adalah satu-satunya target yang bertingkah. Sedikit membuatnya jadi senewen. Tapi dia tidak akan pernah menyerah sebelum mendapatkannya. Karena setelah dia mendapatkannya. Akan di buatnya Tiara menjadi semanis kelinci.
"Gue anter pulang ya. Sebentar lagi sekolah sepi lho." tawarnya manis. "Rumah lo di mana?"
Tiba-tiba terdengar suara cowok yang memanggil nama Tiara. Tiara dan Vino menoleh berbarengan ke sumber suara.
Tiara tersenyum melihat orang yang memanggilnya sambil melambai-lambaikan tangannya dan tersenyum lebar. Rama, katanya dalam hati. Senang. Akhirnya dia bertemu lagi dengan cowok itu. Teman lamanya.
Vino mengercitkan dahinya melihat cowok yang sedang melambai-lambaikan tangan ke Tiara. Lalu menajamkan kedua matanya. Siapa tu cowok?, tanyanya dalam hati. Gusar. Apalagi dilihatnya Tiara tersenyum menatap cowok itu.
Tiara menoleh dan menatap ke Vino. Untuk pertama kalinya dia tersenyum. Sangat manis. "Sori, gue udah di jemput." katanya dengan nada yang di buat kecewa. Seakan-akan dia berkata "Gue sangat amat kecewa nggak bisa pulang bareng lo sekarang. "Thanks atas tawarannya." lanjutnya sambil menepuk-nepuk bahu Vino sesaat. Lalu melangkahkan kakinya dengan setengah berlari. Menghampiri Rama yang sudah menunggunya di mobil Jeep Grand Cherokee warna putih milik cowok itu.
Vino membelalakan kedua matanya. Tidak percaya Tiara bisa mengucapkan kata-kata itu. Belum pernah dia tolak! Sama sekali belum pernah. Tidak satu apalagi banyak. Sudah berkali-kali Tiara menolak drinya dalam waktu yang hanya sehari. Sehari!
Vino menajamkan kedua matanya. Melihat Tiara yang dengan ringan berpelukan dengan cowok itu. Lalu memasuki mobil Jeep Grand Cherokee warna putih milik cowok itu. Dan mobil itu pun menghilang.
Vino membasahi bibirnya sekilas sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Apa tu cowok pacarnya tiara?, tanyanya dalam hati. Bingung. Tapi perlahan dia tersenyum licik. Tidak peduli dengan status cowok itu siapa. Mau pacar atau bukan, dia tidak peduli. Sama sekali tidak peduli. Pokoknya dia harus bisa mendapatkan Tiara. Titik!

***
"Sumpah! Gue kangen banget sama lo, Ram!" ucap Tiara histeris.
Rama menyeringai lebar. Lalu membusungkan dadanya. Di tepuk-tepuknya dadanya dengan bangga. "Rama gitu lho. Siapa sih yang nggak kangen sama seorang Rama Nugroho?" jawabnya pede banget.
Tiara ternganga sesaat. Lalu mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Menatap wajah di hadapannya dengan pandangan yang agak-agak gimanaaa gitu. Kemudian dia menyendok es cream ice cream sundae night "Gue cabut lagi deh kata-katanya!" balasnya sambil memakan es creamnya.
"Hehehe... bercanda, jelek." Rama mengacak-acak rambut Tiara sesaat. "Gue juga kangen sama lo, Ra. Kangen buanget!"
"Telat!" cibirnya sambil memeletkan lidahnya.
Rama tertawa melihat tingkah laku Tiara yang ternyata masih seperti anak kecil. Lalu dia menyendok es cream home made vanilla yang di pesannya sambil memandang wajah Tiara.
Tiara benar-benar berubah total sekarang. Dulu Tiara selalu di kuncir kuda. Sekarang rambutnya tergerai bebas. Dulu Tiara selalu memakai kawat gigi. Sekarang gigi-giginya terlihat rapi. Dulu Tiara memiliki kuku-kuku yang tidak rata dan kotor. Sekarang kuku-kukunya rata dan terlihat lentik. Indah. Tiara benar-benar berubah total dari segi fisik. Berubah menjadi cantik.
"Jangan ngeliatin gue sampe segitunya." tegur Tiara sambil tertawa. Dan mengunyah es cream pesanannya. "Ntar naksir malah bahaya lho."
Rama langsung tergeragap. Ke-gap sedang memandangi Tiara. Lalu dia menunduk. Berpura-pura berkonsentrasi dengan es creamnya. "Siapa yang ngeliatin elo?" elaknya.
"Idiiih, nggak ngaku lagi." jawabnya sambil menyeringai lebar. "Malu ya ke gap? Hahaha..."
"Gue malu ama lo?" Rama mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. "Sori, nggak ada sejarahnya tuh."
"Hahaha..." Tiara tertawa geli. "Nanti lo malah jatuh cinta ama gue lagi. Kalo sering-sering ngeliatin gue." lanjutnya bercanda.
"Ya ampun, Ra. Meskipun di dunia ini cuma lo cewek satu-satunya. Gue ogah banget sama lo. Mending gue jomblo seumur hidup."
"Ucapan adalah doa." ralatnya santai. "Hati-hati sama ucapan lo. Ntar jadi kenyataan aja. Nyesel lagi."
Rama hanya tertawa menanggapi bercandaan Tiara. Tiara memang suka begitu. Tidak mau kalah. Tiba-tiba saja sifat jailnya kumat. Dia menyendokan es creamnya. Lalu di taruhnya di ujung hidung Tiara.
Tiara langsung mejerit. "Ramaaa! Dingin, tauuu!" omelnya sambil buru-buru meraih tisu di saku rok abu-abunya.
Rama hanya cekikan geli mendengar omelan Tiara. Lalu dia melanjutkan mengunyah es creamnya tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Tiara mencolek es creamnya begitu saja dengan tangan. "Rasakan pembalasan gue!" dan es cream di tangannya pun berpindah cepat ke pipi Rama. Lalu dia tertawa geli. "Satu sama." Katanya bangga sambil memeletkan lidahnya.
"Yeeeeee, ni anak!" Rama mencolek es creamnya dengan tangan. Lalu menaruh di pipi Tiara.
Tiara membusungkan kedua pipinya sesaat. Lalu melakukan hal yang sama sambil cekikan geli. Rama pun melakukan hal yang sama lagi.
Alhasil, ice-cream counter ramai bukan karena pengunjung yang datang. Tapi ramai karena Tiara dan Rama sibuk dengan perlawanan masing-masing.

***
Niko memarkirkan motornya di halaman rumah. Lalu dia melangkahkan kakinya sambil memainkan kuncil motornya. Tiba-tiba dia memberhentikan langkahnya. Di dengarnya suara mamanya sedang berbicara sambil tertawa. Suara adiknya, Lia, pun juga terdengar sedang cekikan geli.
Niko mendesis kesal. Pasti mama dan adiknya sedang bercanda dengan Om Adi, pacar mama. Dua bulan setelah papanya meninggal. Mamanya memang memperkenalkan Om Adi sebagai teman mama. Tapi dia melihatnya tidak seperti itu. Mamanya dan Om Adi terlihat terlalu mesra untuk ukuran berteman. Dan seperti orang pcran. Akhirnya dia menyimpulkan dengan sendirinya. Mamanya sudah memiliki gandengan baru. Meskipun papanya baru dua bulan meninggal.
Dan Niko sangat-sangat tidak menyukai itu.
Niko menghela napas panjang dan berat. Kesal. Lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Dia melewati orang-orang yang sedang mengobrol riuh itu dengan santai. Bahkan sama sekali tidak menoleh.
"Niko! Salam dulu sama Om Adi." tegur mamanya dengan penuh penekanan. Namun suaranya terdengar lembut.
Niko memberhentikan langkahnya sesaat. "Males!" jawabnya santai. Lalu melanjutkan langkahnya yang tertunda.
"Niko!" teriak mamanya sambil berdiri. "Niko!"
Tapi Niko sudah tidak mendengarkan teriakan mamanya lagi. Dia tetap melangkahkan kedua kakinya dengan santai.
Adi langsung menyentuh bahu Luna. Menenangkan wanita itu. "Udah, lun, kalo nggak mau, nggak usah di paksa." bujuknya lembut.
"Tapi, mas, kalo di diemin, Niko semakin kurang ajar." Luna, mama Niko langsung membalasnya dengan sedikit emosi.
"Udah, kamu yang sabar ya. Nanti Niko juga berubah. Kamu tenang ya."
Luna menghela napas panjang. Lalu mengangguk-angguk.

***
"Lo besok mau jemput gue, Ram?" tanya Tiara di telepon sambil menggigit biskuit kesukaannya.
"Iya, jelek. Bawel banget sih lo." jawab Rama sambil memandangi foto Tiara di meja belajarnya.
"Hehehe... bukan begitu, Ram. Kalo lo nggak jemput. Gue kan minta anterin Pak Lanang. Soalnya gue belom apal banget jalan sini."
"Alaaah, mentang-mentang tinggal di Paris. Udah jadi anak Paris lo sekarang." cibirnya singkat. Lalu mengusap-usap lembut foto tiara sambil tersenyum lebar.
"Hehehe... bukan begitu juga maksudnya, Ram. Nanti kan kalo gue nyasar. Lo juga yang rugi." Tiara menyeringai lebar sambil menyalakan TV dengan remote control. "Nanti lo nggak ketemu gue lagi."
"Hahaha... pede gila lo. Gue malah bersyukur banget lo nggak ada, tau."
"Eeehh, awas lo ya kalo sampe nangis kalo gue nggak ada." balasnya tidak mau kalah sambil ketawa geli.
"Iya, gue nangis. Tapi buat speak-speak doang. Hahaha..." Rama tertawa geli.
"Beeeh, di luarnya speak. Tapi di dalamnya nangis bombay. Hahaha..." Tiara tetap tidak mau kalah sambil terus mengemil biskuit kesukaannya dan menonton acara TV malam ini.
"Ntar abis lo ilang. Malemnya gua langsung ngadain party besar-besaran."
"Party air mata ya, Ram. Hahaha..."
"Kagak. Tapi party merayakan kehilangan lo."
"Iya. Tapi partynya pake air mata, kan?"
"Nggak lah. Partynya pake makan-makan. Hahaha..."
"Makan-makan sambil ngeliat foto gue. Abis itu nangis dah."
"Hahaha..." Rama tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu di taruhnya foto Tiara di meja belajarnya. Kemudian berjalan menuju ranjangnya. "Oke. Oke. Gue kalah." katanya menyerah.
"Makanya jangan ngelawan Tiara!" jawabnya bangga sambi cekikan geli. Tiba-tiba saja dia mendengar klakson mobil. Dia tersenyum sambil berlari ke arah jendela. Untuk melihat siapa yang datang. Papa pulang, ucapnya dalam hati. Senang.
"Iya. Iya. Terserah apa kata lo deh." balasnya sambil menjatuhkan tubuhnya ke ranjang.
"Hahaha... eh, teleponnya gue matiin dulu ya. Papa udah pulang."
"Oke, sip. Salam buat Om ya. Besok gue jemput jam enam. Awas lo ya kalo sampe lama dandannya!" ancamnya bercanda sambil tertawa.
"Hahaha... Sip. Sip. Paling lo cuma nunggu tiga puluh menit doang kok." jawabnya santai.
"Kita bisa telat, jeleeek!"
"Hehehe... Oh, iya ya." nyengirnya pura-pura baru sadar.
"Huuu...” Rama tertawa sesaat. “Daaaah, jelek."
"Daaaah, Rama."
Klik! Telepon di tutup.
Tiara menaruh HPnya di meja. Lalu berlari menghampiri papanya.
"Papaaa." teriaknya sambil menyeringai lebar.
Teryadi tersenyum melihat anaknya sambil menutup pintu mobil. Lalu mengusap-usap kepala Tiara sesaat. Lalu di rangkulnya anak tunggalnya.
"Gimana hari pertama kamu masuk sekolah, sayang?" tanya Teryadi sambil tersenyum dan melangkahkan kakinya memasuki rumahnya.
"Menyenangkan." jawabnya sambil tersenyum manis. “Very nice." Lanjutnya dengan nada yang di buat riang. Menyenangkan apaan?, keluhnya dalam hati sambil tersenyum kecut. Menyebalkan, iya!
Teryadi tersenyum. "Bagus, kalo kamu senang."
Tiara memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Padahal sih di dalam hati dia ingin sekali berteriak kencang-kencang. Kalau dirinya bertemu dengan dua cowok nyebelin dan sederet cowok mata keranjang.
"Papa udah makan?"
"Belom." Teryadi menggeleng. "Hmm... gimana kalo kita makan di luar?" tawarnya lembut.
"Mauuu!!! Aku mau makan masakan Indonesia. Kangeeen. Hehehe..."
"Oke deh, baby." Teryadi mengedipkan satu matanya dengan genit. Membuat Tiara menyeringai geli. "Papa ganti baju dulu ya."
"Siap, bos!" Tiara langsung hormat di depan papanya sambil tertawa geli.
Teryadi tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu mengacak-acak rambut anaknya sesaat.

***
Rama menatap langit-langit kamarnya. Lalu bibirnya menyunggingkan senyum lebar. Terkadang dia tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Rama membasahi bibirnya sekilas. Sekarang Tiara sudah pulang ke Indonesia. Sekarang Tiara sudah berada di dekatnya. Sekarang Tiara sudah bisa dilihatnya setiap hari. Dan sekarang Tiara menjadi... cantik.
Bukannya dulu Tiara tidak cantik. Tiara tetap cantik dulu. Tapi sekarang Tiara terlihat lebih cantik. Dan tubuhnya yang semampai. Mirip seperti model-model catwalk.
Rama mengangkat kedua alisnya. Mengingat wajah Tiara dalam bayangannya. Temannya itu memang selalu bisa membuat hatinya bergejolak. Sifat Tiara yang tidak mau kalah, terkadang membuat dirinya kelimpungan. Tapi Tiara juga lucu. Ceria. Dan bawel.
Tapi Rama sangat menyukai sifat Tiara. Karena menurutnya Tiara unik. Tiara juga termasuk cewek pemberani. Soalnya waktu SD cewek itu sering banget berantem. Meskipun cewek, kalau soal manjat-memanjat Tiara jagonya. Bahkan Tiara selalu memanjat pagar sekolah kalau cewek itu datang terlambat.
Rama pikir, Tiara akan tumbuh menjadi gadis tomboy dan acak-acakan. Tidak peduli dengan penampilan. Tapi ternyata dia salah. Kepulangan Tiara dari Paris benar-benar mengejutkannya tentang penampilan Tiara. Tiara sama sekali tidak terlihat cewek tomboy. Bahkan terlihat feminim. Penampilannya juga tidak acak-acakan. Tapi terawat. Sangat terawat. Bahkan rambut Tiara yang dulu sering di kuncir kuda dan kering. Sekarang menjelma menjadi rambut yang terurai indah dan lembut.
Tiba-tiba Rama tertawa geli sendiri. Dia dari dulu menunggu kepulangan Tiara dari Paris. Dan sekarang Tiara sudah pulang dari Paris. Tentunya dia tidak akan mensia-siakan penantian panjangnya. Dia akan berusaha untuk membuat Tiara sadar. Kalau di samping cewek itu selama ini, terdapat cowok yang sangat setia menunggu kepulangannya. Dan sangat setia menunggu... cewek itu.