Vino mengaitkan kancing seragam sekolahnya di
depan cermin. Lalu mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi sambil tersenyum
tipis. Dia masih ingat ekspresi Tiara yang marah-marah dan menolaknya. Masih
terngiang di benaknya dengan jelas. Sangat jelas.
Vino sudah bertekad untuk bisa mendapatkan anak
baru itu. Harus! Karena dia belum pernah di tolak seperti ini. Apalagi sama cewek.
Hanya cewek. Itu persoalan mudah. Sangat musah. Sama seperti meng-shut bola
basket ke ring. Tapi Tiara... benar-benar membutuhkan keahlian khusus untuk
mendekatinya.
Vino melipat kedua tangannya di depan dada sambil
berpikir keras. Bagaimana Tiara bisa menjadi miliknya? Dia benar-benar harus
memikirkan matang-matang soal ini. Agar tidak salah langkah. Karena Tiara adalah
cewek langka menurutnya.
Jika Vino menyukai cewek. Tinggal di ajak makan
atau mengeluarkan senyuman mautnya saja. Dengan begitu cewek itu tidak akan
menolaknya. Tidak akan. Tapi yang ini, boro-boro di ajak makan. Di senyumin aja
nggak mempan.
"Hari ini gue harus bisa ngajak dia pulang
bareng!" ucap Vino penuh tekad sambil tersenyum licik. Penolakan Tiara kemarin
semakin membuat dia tertantang untuk memilikinya.
***
"Ejieeeee, rajin banget lo, Ram. Gini hari
udah nangkring di rumah gue." kata Tiara sambil menduduki salah satu kursi
makan dan menyeringai lebar.
Rama mencibir. "Rajin apaan? Lo telat lima
menit, tau." katanya sambil menunjukan jam tangannya ke hadapan Tiara.
"Empat menit bukan lima menit. Salah
lo!" balasnya santai sambil meraih roti tawarnya dan mengoleskan dengan
selai strawbery kesuakaannya.
Rama mengerutkan dahinya sambil melihat jam
tangannya. Benar juga, telat empat menit bukan lima menit. Tapi tetap, dia
tidak mau kalah. Sekali telat, tetap telat!
Teryadi tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya. Sudah tahu sifat Tiara yang tidak mau kalah.
"Sekarang udah lima menit." balas Rama
agak kikuk. Malu juga dirinya.
"Tapi tadi masih empat menit." Tiara
memeletkan lidanya dengan tampang lucu. Lalu mengunyah rotinya dengan santai.
"Tapi tetep aja. Judulnya lo telat." Rama
tetap tidak mau kalah.
"Tapi lo salah ngomong menitnya."
"Sudah." Teryadi menengahi sambil
melipat korannya. "Kalo kali berantem terus. Nanti sekolahnya telat
lho." lanjutnya sambil tertawa geli. Lalu meminum kopinya.
"Tau, Tiara!" Rama menyalahkan Tiara
sambil mengunyah rotinya.
"Dih, kok gue? Kan elo!"
Tiba-tiba Tiara dan Rama tertawa geli berbarengan.
Lalu mengunyah roti masing-masing dalam diam.
"Ram, berangkat, yuk! Udah siang nih."
ajak Tiara sambil meminum susu putihnya. Lalu meraih tas sekolahnya.
Rama mengangguk-angguk sambil meraih ranselnya.
"Pa, aku berangkat ya." pamit Tiara
sambil mencium pipi kanan-kiri papanya.
"Hati-hati ya, sayang."
"Om berangkat dulu ya." pamit Rama sopan
sambil tersenyum lebar.
Teryadi mengangguk-angguk sambil tersenyum.
"Hati-hati ya, Ram."
"Iya, Om."
Tiara dan Rama melangkahkan kakinya. Kemudian
mereka memasuki mobil Jeep Grand Cherokee-nya Rama.
"Thanka Ramaku tercinta." ucap Tiara genit
sambil menyeringai geli.
"Cinta! Cinta! Ogah gue ama lo, Ra."
cibirnya. Padahal di dalam hati dia sudah deg-degan sendiri.
"Hehehe..." Tiara lalu mengulurkan
tangannya. Mencubit pipi rama. "Iiihh, bikin gue gemes ajaaa."
Lanjutnya gemas sambil memainkan pipi Rama dengan gemas.
Rama langsung berusaha mengenyahkan tangan Tiara.
"Apaan sih, Ra? Gue bukan anak kecil lagi, tau. Aaahh, lepaaas!"
"Hehehe..." Tiara mengalah. Sambil
tertawa geli dia melepaskan cubitannya. Lalu dia menyeringai geli. "Daaaaaaah."
pamitnya sambil mengedipkan satu matanya dengan genit. Lalu dia turun dari
mobil.
Rama tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya. Lalu menekan klakson sebanyak tiga kali. Dan langsung menancapkan
mobilnya menuju sekolahnya yang memang lumayan jauh dari sekolah Tiara.
Sesaat, Tiara melambai-lambaikan tangannya sambil
tersenyum. Lalu membalikan tubuhnya. Dia melangkahkan kakinya dengan ringan
sambil bersenandung pelan. Menuju kelasnya.
Tapi tiba-tiba langkah Tiara terhenti di koridor dekat
kelasnya. Karena dia melihat Vino di sana. Bersandar punggung di pintu kelas
sambil tersenyum ke arahnya. Dia melengos sesaat. Kesal melihat tampang playboy
cowok itu.
Tiara berdecak pelan. "Ngerusak mood gue aja
sih ni orang." keluhnya pelan.
Tiara menghela napas sesaat. Lalu melangkahkan
kakinya tanpa kedua matanya mengarah ke Vino. Sama sekali tidak melihat ke
Vino. Enek melihat wajah sok cool itu.
Vino tersenyum tipis melihat wajah jutek itu. Tapi
dia sudah bertekad untuk menang hari ini. Harus menang! Karena dia ingin Tiara tahu.
Dengan siapa cewek itu berhadapan. Enak saja cewek itu memandangnya dengan
sebelah mata. Sebelah mata masih mending. Ini sama sekali tidak ada mata!
Vino langsung meraih lengan Tiara saat cewek itu
melewati dirinya dengan sangat santai. Kalau cewek lain pasti akan langsung
menyapa dirinya. Tapi seorang Tiara menyapa dia, sepertinya harus ada
jampi-jampi terlebih dahulu.
"Eh, nggak usah kurang ajar ya! Megang-megang
gue!" bentak Tiara langsung sambil menyingkirkan tangan yang memegangnya
dengan kasar.
Teman-teman di kelas Tiara langsung menoleh ke
TKP. Ketika mendengar cewek itu teriak-teriak. Dan mereka semakin tercengang. Tertegun.
Ketika tahu cewek itu sedang marah-marah ke Vino. Vino! Seorang Vino Adrian Hatamo
yang ganteng itu. Pujaan cewek-cewek sesekolahan. Yang cool, keren, baik abis. Benar-benar
membuat mereka takjub.
Vino sudah tidak kaget lagi melihat tanggapan Tiara
yang seperti itu. Bahkan semua adik kelasnya di kelas XI-3 menoleh ke arahnya.
Khusus untuk cewek yang satu ini, dia berusaha menyabarkan hatinya. Dan
berusaha untuk tetap tersenyum untuk cewek di hadapannya.
"Pulang gue anter?" tanya Vino to the
point. Karena menurutnya untuk cewek langka di hadapannya tidak perlu bertele-tele.
Tiara mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.
Mulutnya sedikit terbuka. Kaget dengan tawaran yang langsung ke intinya. Tapi
seharusnya dia tidak perlu kaget lagi dengan cowok sok cool di hadapannya. Karena
dia tahu banget sifat-sifat cowok seperti ini. Maju terus pantang malu. Padahal
kemaren jelas-jelas sudah di tolak telak-telak. Tapi cowok di hadapannya tetap
maju terus. Sudah begitu pantang malu pula.
"Nggak!" jawab Tiara seketika sambil
mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Lalu bibirnya di hiasi dengan senyum tipis.
Vino mengangguk-angguk. Sudah tahu jawabannya
pasti "Nggak". Butuh trik yang ekstrem ternyata untuk mengantarkan cewek
ini pulang. Tapi itu nanti saja. Tidak usah sekarang. Tidak usah terburu-buru.
Kalau sama cewek model seperti ini harus slow.
"Oke." Vino tersenyum tipis. Lalu
mengacak-acak rambut Tiara sesaat. Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju
kelasnya di lantai tiga sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana
seragamnya.
Tiara mengerutkan kedua alisnya. Kedua matanya membelalak
lebar mengikuti punggung Vino yang bergerak jauh. Aneh dengan sikap cowok itu.
Bisa tiba-tiba pergi begitu saja tanpa hasil. It's amazing to a
guy such a playboy.
"Gila! Berani banget lo nolak ajakan kak Vino!"
kata farah yang langsung mengahmpiri Tiara, setelah vino meninggalkan
tempatnya. Sambil menepuk satu bahu cewek itu.
Tiara menoleh dan menatap Farah dengan wajah
bingung. Lalu mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. "Kak Vino?"
Farah mengarahkan dagunya ke Vino.
Tiara mengangguk-angguk. Ooohh, jadi cowok itu kakak
kelas gue, katanya dalam hati. Baru ngeh. Tapi seingatnya kemarin cowok itu
menyebutkan kelasnya. Tapi dia tidak terlalu mendengarkan. Tidak peduli juga.
"Nyesel aja lo, Ra!" sambung Cika dengan
pandangan takjub. Seakan-akan pandangan itu berkata "Kalo gue jadi lo, gue
nggak akan nolak ajakan Kak Vino. Sumpah!"
"Nyesel kenapa?" Tiara menatap Cika dengan
pandangan bingung.
"Ra! Lo nggak liat tampang Kak Vino. Guanteng
tenan gitu. Gayanya kueren buanget. Cool abis. Jago basket pula. Dia selalu
menangin perlombaan di sekolah kita!" jawab Rina histeris. Bahkan
kalimatnya sampai blepotan dan kuah-kuah muncrat seketika.
Tiara agak menjauhkan wajahnya dari Rina sambil
mengangkat kedua alisnya sesaat. Takut terkena kuah nyasar. Lalu perlahan dia
mengangguk-angguk. Kalau soal tampang sih. Dia tidak memungkiri, kalau Vino
memang ganteng. Gayanya juga keren. Tapi entah mengapa, dia tidak suka cowok
seperti itu. Pasti cowok itu sering mempermainkan hati wanita. Pasti! Nggak
mungkin nggak!
"Jago maen basket apaan!?" Tiara mengangkat
kedua alisnya tinggi-tinggi di hadapan teman-temannya yang histeris.
"Gara-gara dia! Pala gue benjol plus pusing begini!" lanjutnya sambil
menunjuk-nunjuk kepalanya dengan tampang kesal.
"Kenapa?" tanya ketiganya bingung.
"Yaaaa, gara-gata tu cowok nggak bisa maen
basket!" tandasnya seketika.
"Jangan asal ngomong lo, Ra!" Cika
langsung tidak terima. Menurutnya Vino jago buanget main basketnya. Wong, semua
piala langsung di sikatnya tanpa ampun. "Kak Vino tuh maen basketnya jago
banget, tau!"
"Terserah elo deh. Kalo nggak percaya."
jawabnya cuek. Malas meladeni teman-temannya yang terhipnotis dengan tampang Vino
yang kece abis. Lalu melanjutkan langkahnya ke tempat duduk barunya dengan
santai.
Tiara mengercitkan kedua alisnya. Niko tidak ada
di bangkunya. Tapi ranselnya sudah tergantung manis di sandaran kursi. Dia
mengangkat kedua bahunya dengan cuek. Bodo amat lah. Lebih baik begini.
Daripada dia harus melihat tampang datar tak beremosi apalagi tersenyum seperti
Niko itu. Malah membuat moodnya semakin jelek.
***
"Ramaaa!" teriak seorang cewek dari
kejauhan.
Rama menoleh sambil mengangkat kedua alisnya
sesaat. Lalu dia berdecak pelan. Malas bertemu cewek itu. Di paksanya bibirnya untuk
menyunggingkan senyum.
"Aku dari tadi nyariin kamu, tau." kata
Vanesa manja.
Rama menyeringai lebar. "Maaf. Tadi aku di
panggil Pak Arul." Lanjutnya berbohong. Alasan tepatnya, dia ingin
menghindar dari cewek ndableg ini.
Vanesa mengangguk-angguk. "Nanti anterin aku
ke mall ya." pintanya sambil tersenyum manis.
Rama langsung tersenyum kecut dalam hati. Vanesa
pake minta anterin lagi, katanya dalam hati. Kesal. Berarti dia tidak bisa
menjemput Tiara hari ini. Padahal dia sangat menanti-nanti pulang sekolah cepat
datang. Agar dirinya bisa bertemu dengan Tiara. Tapi ternyata ceweknya yang
manja ini minta anterin ke mall. Sungguh mengganggu kesenangan diri. Tapi dia
juga tidak bisa menolak ajakan Vanesa. Soalnya cewek itu akan tetap memaksanya
untuk mau mengantarnya. Karena cewek di hadapannya mempunyai segudang cara untuk
memaksanya.
"Oke deh." ucap Vanesa kemudian tanpa
menunggu jawaban dari pacarnya. "Aku tunggu di mobil kamu pulang sekolah
ya." lanjutnya lembut sambil mengedipkan satu matanya dengan genit. Lalu
meninggalkan rama dengan santai.
Rama ternganga sesaat. Lalu membalikan tubuhnya
sambil menatap punggung Vanesa yang bergerak menjauh. Perlahan dia
menggeleng-gelengkan kepalanya. "Belom juga gue jawab. Udah ngambil
keputusan sendiri aja si Vanesa. Bener-bener cewek gila!"
Sudah lama Rama ingin memutuskan hubungannya
dengan Vanesa. Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Sangat-sangat tidak mungkin.
Karena dia tidak pernah "menembak" Vanesa. Malah hubungan ini di jalaninya
dengan tepaksa. Sangat terpaksa. TERPAKSA!!!
Gila aja! Bayangin dong! Waktu Rama menolak cinta
Vanesa. Vanesa malah nekat teriak-teriak kencang, sampai histeris malah. Di
depan umum pula. Kalau seorang Rama Nugroho sudah menghamili dirinya! WHAT!?
Kebayang nggak sih malunya wajah Rama waktu itu?
Gila! Dia saja sampai mau pingsan dengarnya. Boro-boro menghamili Vanesa.
Pegangan tangan aja, belum pernah!
Akhirnya Rama memohon dengan amat sangat untuk Vanesa
mengkonfirmasikan ke umum, kalau ucapannya waktu itu bohong. Vanesa setuju. Tapi
cewek itu memberikan syarat yang mampu membuat dia lebih memilih gantung diri daripada
harus menurutinya. Tapi karena dia masih ingat sama mama, papa, kakak, dan
adiknya serta seluruh keluarganya. Akhirnya dengan suangat amat TERPAKSA dia
menuruti syarat Vanesa.
Dan syaratnya adalah: seorang Rama Nugroho harus
wajib kudu menjadi pacar seorang Vanesa Putri Hatamo. Harus! Kalau masalahnya
mau clear.
Rama bergidik ketika mengingat kejadian buruk itu.
Dunia sudah seperti bagaikan neraka untuknya. Ke mana-mana dan di mana-mana dia
harus dekat dengan Vanesa. Bersikap baik dan manis ke cewek itu. Memanjakan cewek
itu. Dan semua tingkah laku lainnya yang membuatnya ingin muntah setiap hari.
Bel masuk seketika membuyarkan lamunan Rama. Lalu
dia menghela napas. Terpaksa dia harus merelakan hari-hari indahnya bersama Tiara.
Karena pasti peri jahat itu—sebutan yang di berikan Rama ke Vanesa—akan terus
menguntitnya ke mana-mana. Sampai dia menuruti permintaannya.
***
Teryadi mengendarai mobil Toyota Rush-nya dengan
santai. Karena jalanan sedang lenggang. Dia menghela napas panjang. Lalu
berdecak pelan. Berfikir bagaimana caranya untuk memberitahu Tiara tentang hubungannya
dengan Luna yang sudah terjalin kurang lebih dua tahun ini.
Teryadi bingung harus berbicara dengan Tiara dari
mana. Tiara memang tidak pernah mengeluh dengan tidak ada kehadiran seorang ibu
di sisinya. Karena ibunya meninggal saat melahirkannya. Istri tercintanya pendaharan
saat melahirkan Tiara. Dan akhirnya nyawanya tak tertolong.
Waktu Tiara masih SD, anak tercintanya itu memang
sering iri melihat teman-temannya di antar-jemput sama ibu mereka. Sedangkan
Tiara sama sopir pribadi. Teman-temannya juga selalu mengambil rapot dengan ibu
mereka. Sedangkan Tiara selalu dengan papanya—atau kalau dirinya sedang
sibuk—sama Mbok Nah, pembantu yang kerja di rumahnya.
Tiara memang tidak pernah berbicara apa-apa dengan
dirinya. Tapi dia tahu, kalau anaknya juga ingin seperti teman-temannya.
Berangkat sekolah ada yang menemaninya sampai depan pintu. Pulang sekolah ada yang
menunggunya di depan itu. Selalu memakan masakan seorang ibu. Dan mungkin itu
adalah impian Tiara.
Jadi Teryadi fikir, kalau dirinya mencari calon
mama baru untuk Tiara. Tiara akan setuju dan merestuinya. Tapi kenapa dia sekarang
jadi pesimis begini. Takut Tiara tidak menyetujui hubungannya dengan Luna. Masalahnya
dia sudah terlanjur jatuh cinta sungguhan dengan Luna.
Teryadi menghela napas lagi. Panjang dan berat Lalu
berdecak pelan. Mungkin dia harus mencari waktu yang pas untuk membicarakan
persoalan ini dengan Tiara. Karena dia sudah ingin melepas masa dudanya. Dan dia
juga sudah berjanji kapada Luna, akan menikahi wanita itu secepatnya. Dan Luna
juga ingin bertemu dengan Tiara. Ingin melakukan pendekatan dengan calon
anaknya.
Tapi Teryadi yang tidak yakin. Kalau Tiara akan
bersikap ramah ke Luna. Kepergian Tiara ke paris adalah tujuan untuk
menenangkan pikiran anaknya. Karena Tiara selalu di ledek teman-temannya tidak
mempunyai seorang ibu. Dan hal itu Membuat Tiara semakin menyayangi ibunya.
Jadi dia takut Tiara tidak bisa melupakan ibu kandunganya. Dan tidak akan
membiarkan posisi ibunya tergantikan dengan siapa pun.
Tiba-tiba HPnya berbunyi. Memperdengarkan ringtone
panggilan masuk.
"Halo?" sapa Teryadi di telepon.
”Selamat siang, Pak." jawab asisten
pribadinya, Dina.
"Selamat siang. Ada apa, Din?"
"Pak, sekarang ada meeting dengan klien jam
satu siang. Saya takut Pak Adi lupa." katanya mengingatkan dengan nada sopan.
Teryadi mengangguk-angguk. Saking seriusnya
berpikir. Dia sampai lupa, kalau sekarang ada jadwal meeting dengan klien.
"Oh, ya. Terima kasih."
"Sama-sama, Pak."
"Kamu sudah mempersiapkan proposal yang harus
kita persentasikan nanti di meeting?"
"Sudah, Pak." di seberang Dina tersenyum
sambil mengecek ulang persiapan untuk meeting nanti. "Semua persiapan
sudah saya cek ulang, Pak. Semuanya sudah siap. Tidak ada yang kurang."
lanjutnya mantap.
"Oke kalo begitu. Saya ke kantor sekarang."
jawabnya sambil memacu mobilnya lebih cepat. Menuju kantornya. Karena sekarang jam
sudah menunjukan pukul 11:30.
"Baik, Pak."
***
"Hmm... Nik!" Tiara mencegah kepergian Niko
dengan cara memegang lengannya.
Niko menoleh dan menatap Tiara dengan kedua alis
terangkat tinggi sesaat. Lalu gerakan matanya langsung tajam tertuju ke tangan
yang menyentuh dirinya.
Tiara langsung mengerti, kalau tindakannya salah.
Salah besar menurut kaca mata cowok cuek itu. "Sori." katanya kikuk
sambil melepaskan tangannya.
Niko mengangkat kedua alisnya. "Kenapa?"
tanyanya datar.
"Hmm..." Tiara menggarukan kepalanya yang
tidak gatal. Lalu berdecak pelan. Wajahnya sudah agak-agak di warnai dengan
warna merah padam. "Ngg..." dia berdecak lagi. Aduuuh! Gimana
nanyanya ya? Malu banget gue nih, ucapnya dalam hati. Bingung.
"Lo mau ngomong nggak sih?" Niko mengangkat
kedua alisnya tinggi-tinggi. Gusar menunggu teman sebangkunya berbicara.
"Gue lagi di tunggu Pak Ahmad di ruangannya nih." lanjutnya
beralasan. Biar cepet pergi. Supaya dia bisa menyalurkan penyakit malasnya di
taman belakang sekolah.
"Hmm..." Tiara menggigit bibir bawahnya
kuat-kuat. Menahan wajahnya yang mulai memerah. "Ng... to... toilet... di...
mana sih?" tanyanya tergeragap sambil agak menundukan kepala.
Niko mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi. Sesaat
dia tertegun Lalu mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Menahan tawanya untuk tidak
muncrat keluar. "Nanya gitu aja lama banget!" cibirnya sambil menahan
nada gelinya.
Tiara langsung memanyunkan bibirnya beberapa
senti. Kalo nggak kebelet banget, cibirnya dalam hati. Ogah! Gue nanya ama lo!
"Mau ke toilet?" Niko menatap Tiara dengan
agak-agak geli di kedua matanya.
Tapi karena Tiara sudah terlanjur mencap teman
sebangkunya sebagai patung bernyawa, wajah tanpa ekspresi, arca kokoh. Jadi dia
luput menangkap tatapan geli dari kedua mata Niko. Perlahan dia
mengangguk-angguk.
"Yuk, ikut gue!" ajaknya santai sambil
melangkahkan kakinya terlebih dahulu.
"Kan gue cuma nanya letaknya." balasnya
polos.
"Kita searah. Sekalian aja." jawabnya
santai sambil lalu.
"Lho, ruang guru bukannya...?" Tiara langsung
merapatkan bibirnya rapat-rapat. Ketika sepasang mata tajam itu mengarah ke arahnya
lurus-lurus. "Yaudah deh." putusnya akhirnya. Daripada keluarnya di
sini. Bisa langsung terjun bebas dia. Saking malunya.
Niko semakin mengatupkan sepasang bibirnya
rapat-rapat. Menahan tawa gelinya melihat Tiara. Hampir saja dia tidak kuat. Karena
melihat wajah tiara yang merah. Wajah Tiara menjadi lucu. Sangat lucu dan
gemas. Membuat dia ingin mencubit satu saja pipi cewek itu. Manis, katanya dalam
hati tanpa sadar sambil tersenyum.
"Nih, toilet cewek." kata Niko setelah sampai
di depan toilet cewek.
Tiara mengangguk-angguk. "Terima kasih."
katanya cepat. Soalnya dia benar-benar kebelet buanget. Kalau kata orang nih,
sudah di ujung tanduk.
Tiba-tiba Niko meraih tangan Tiara dengan santai.
Tiara menghadapkan lagi tubuhnya ke wajah cowok tak beremosi itu.
"Kenapa lagi?" tanya Tiara kayak cacing
kepanasan. Ah, elah! Nggak tau gue lagi kebelet, apa!?, omelnya dalam hati.
"Lo tau jalan balik ke kelas, kan? Nggak
perlu gue tungguin, kan?" godanya dengan ekspresi sedatar mungkin.
Seolah-olah pertanyaan tadi adalah pertanyaan yang suangat-suangat wajar. Tapi
dalam hati dia sudah tertawa geli. Melihat tampang Tiara yang persis seperti
baru ketangkap basah nyolong duit.
Tiara ternganga. Tercengang. Terkesima dengan
pertanyaan itu. Dan sgak malu juga sih. Soalnya pertanyaan itu bisa di bilang
pertanyaan sensitif. Kalau di tempat lain sih nggak masalah. Tapi ini masalahnya
di toilet. Toilet! Dan cowok di hadapannya melontarkan pertanyaan itu dengan
sangat-sangat datar. Seolah-olah dia hanya berniat membantu. Membantu tapi
membuat malu. And shame you could say sensitive.
Perlahan Tiara menggelengkan kepalanya dengan
kikuk. Dan wajahnya pun memerah. "Gue bisa balik ke kelas sendiri kok. Lo
juga nggak perlu nungguin gue." jawabnya agak belepotan. Karena gugup menjawab
pertanyaan itu.
Niko mengangguk-angguk cuek. "Oke kalo begitu.”
katanya santai sambil mengangkat kedua bahunya sesaat. Lalu langsung ngeloyor
pergi begitu saja.
Tiara menatap punggung Niko sampai menghilang
tanpa berkedip. Masih terkesima dengan sikap cowok itu. "Aneh!"
ujarnya singkat. Lalu cepat-cepat dia berlari memasuki toilet. Soalnya
benar-benar sudah kebelet buanget. Sedetik lagi mungkin sudah keluar begitu
saja.
***
"Weits, mas bro!" Rahman menepuk bahu Vino
dengan lumayan keras. "Kenapa lo ngelamun aja?" tanyanya sambil
menyeringai lebar.
Teman-teman tim basket lainnya langsung
mengangguk-angguk sambil agak-agak tersenyum geli.
Vino mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Lalu
bibirnya menyunggingkan senyum lebar. "Gue lagi mikirin lo nih, Man."
jawabnya bercanda dengan nada genit.
Rahman ternganga mendengar jawaban gila itu.
Sumpah! Syok beneran. Nggak bohongan. Asli! Mulutnya sampai ternganga lebar.
"Wah, ckckck. Kacau! Kacau! Kacau!"
Trian menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tampang perihatin. "Gue nggak
nyangka ternyata kalian..." dia menatap Vino dan Rahman bergantian dengan
sinar takjub sambil menahan seringai gelinya.
"Ternyata lo berdua homo! Parah!" Andi
langsung menimpali. "Pantesan lo berdua nggak pernah serius sama cewek!"
"Berita heboh nih!" Nando menatap Vino
dan Rahman bergantian. Seakan-akan mereka telah melakukan tindakan kriminal tak
termaafkan. "Seorang Vino Adrian Hatamo dan Rahman Siregar ternyata selama
ini homo! Ckckck."
Rahman langsung menjitak kepala-kepala yang tadi
memberikan pendapat seenak jidat. "Enak aja lo-lo pada! Gue nih nggak
homo. Gue jantan tujuh turunan, tau!" hardiknya sambil bertolak pinggang.
Dan memasang tampang garang.
Ketiganya langsung menyeringai geli bersamaan. Begitu
juga dengan Vino. Bahkan cowok itu sampai cekikan geli.
"Tampang kayak gue homo! Tampang kayak gue
pejantan sejati!" lanjut Rahman yang masih tidak terima di bilang sekong
apalagi homo. Sampai tujuh turunan sepanjang abad dunia akhirat, itu
benar-benar tidak bisa di maafkan.
Cowok-cowok yang berada di sekretariat basket
langsung tertawa geli berbarengan. Vino yang paling geli tawanya di antara teman-teman
lainnya.
"Udah. Kalian ini cuma bisanya ketawa doang!
Ini bercandaan serius, tau. Kalo ada orang yang denger. Pamor gue kan bisa
turun drastis." kata Rahman dengan logat bataknya sambil menduduki salah
satu kursi di sekretariat basket.
"Oke. Oke." Vino menyudahi. "Gue
kalo mau homo juga liat-liat kali, Man. Tampang narapidana kayak lo. Nggak
mungkin gue ajak homo. " tanggapnya sambil cekikan geli.
“Heh!” seketika Rahman melengos ke arah lain.
"Hahaha..." langsung saja cowok-cowok di
ruangan sekretariat basket tertawa geli.
"Emangnya lo lagi mikirin apa kapten?"
tanya Verdy khidmat. Seakan-akan Vino adalah pangeran dari kerajaan dongeng.
Vino menggeleng-geleng sambil tertawa. "Nggak
papa."
Verdy dan yang lainnya mengangguk-angguk.
"Oh, iya. Gue denger-denger lo lagi nyoba deketin
anak baru itu ya?" tanya Dika santai. "Tadi pagi katanya lo nyamperin
tu cewek ke kelasnya."
Vino mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Lalu
mengangguk-angguk sambil tersenyum tipis.
"Gimana? Udah dapet?" tanya Riski sambil
mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.
"Boro-boro." jawabnya sambil tertawa.
"Susah deketin tu cewek!"
"Waow... seorang Vino Adrian Hatamo bilang
susah deketin cewek. Imposible! Ckckck." ujar Rahman dengan tampang yang
di buat takjub.
"Hahaha..." Vino tertawa kecil. "Dia
cewek paling galak, judes, jutek yang gue kenal! Pokoknya dia bener-bener
langka menurut gue." katanya dengan nada serius.
"Masa sih?" Rahman mengangkat satu
alisnya tinggi-tinggi. Tidak percaya.
"Nggak percaya?" ganti Vino yang
mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi. "Coba lo deketin aja. Kalo nggak
kena libas lo! Hahaha..."
Rahman langsung mencibir singkat.
"Tapi... karena sifat tu cewek kayak gitu.
Gue jadi tertantang untuk bisa mendapatkannya." lanjut Vino sambil
memikirkan cara yang jitu banget untuk bisa membuat Tiara tunduk kepada
dirinya. "Gue butuh bantuan kalian." katanya sambil menatap wajah-wajah
yang berada di ruang sekretariat basket.
"Gileeeee, mimpi apa gue semalem ya?
Sampe-sampe Vino minta bantuan gue masalah cewek. Bayangin dong! Masalah cewek!”
kata Dimas sambil membelalakan kedua matanya dan memakai nada yang benar-benar
takjub gila! Sumpah! Membuat keadaan menjadi sok dramatisir. “Ckckck." lanjutnya
sambil menyeringai lebar.
"Hahaha... khusus untuk cewek yang satu
ini..." Vino menggantungkan kalimatnya sejenak sambil menatap dinding di
hadapannya lurus. Seakan-akan di dinding itu ada Tiara yang siap di terkamnya.
"Gue perlu bantuan kalian!"
Rahman menepuk-nepuk bahu Vino. "Bantuan apa
yang elo mau?" tanyanya sambil mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.
Vino tersenyum misterius sambil mengangkat kedua
alisnya tinggi-tinggi. Sesaat di pandanginya wajah teman-temannya dengan
ekspresi serius. Namun nadanya tak terbaca Lalu menjelaskan rencananya. Sedetail
mungkin.