"Papa, jemput aku sekarang, kan?" tanya
seorang gadis remaja di telepon sambil menarik kopernya di airport. "Iya,
aku udah sampe di Indonesia. Aaaahh, nggak mau. Maunya papa yang jemput."
ucapnya manja. "masa papa nggak kangen sih sama aku? Kita kan udah lama nggak
tinggal bareng. Aku aja kangen banget sama papa." katanya dengan nada yang
di buat sedih. "Jadi papa bener-bener nggak bisa jemput sekarang?"
tanyanya sekali lagi. "Iiihh, papa lagi ngerjain aku ya?" lanjutnya
sambil tertawa melihat ternyata papanya sudah berdiri sambil tersenyum dan
menatapnya di dekat kursi tunggu. Lalu di matikan teleponnya. Dan berlari
menuju papanya.
Teryadi, papa dari gadis remaja itu pun
merentangkan kedua tangannya. Lalu memeluk anak tunggalnya.
"Aku kangen banget sama papa." ucap Tiara
manja.
"Papa juga kangen banget sama kamu
tiara." jawabnya sambil mengelus rambut anaknya.
"Aku kira papa serius nggak dateng jemput
aku."
"Hahaha..." Teryadi pun tertawa. "Papa
cuma bercanda kok."
"Iiihh, papaaa." Tiara memukul bahu
papanya dengan pelan.
Teryadi pun tertawa. "Yuk, kita pulang!"
ajaknya sambil membawa koper anaknya.
Tiara mengangguk-angguk sambil tersenyum. Selama
di perjalanan dia menceritakan pengalamannya di Paris. Teryadi pun mendengarkan
dengan sangat antusias.
***
"Oke! Tiara, sekarang waktunya lo masuk ke sekolahan
baru lo." kata Tiara sambil tersenyum lebar ke pantulan dirinya di cermin.
Setelah sesaat Tiara memastikan penampilannya
sudah oke. Dia melangkahkan kakinya menuju ranjangnya. Di raihnya tas
sekolahnya dari sana. Lalu melangkah lagi keluar kamar.
"Morning, Pa!" sapa Tiara kencang ketika
dilihatnya papanya sedang asik membaca korang sambil meminum segelas kopi di
meja makan.
Teryadi menoleh sambil tersenyum ke putrinya.
"Morning, sayang."
Tiara menduduki salah satu kursi makan. Lalu
meraih sehelai roti. Di berinya selai strawbery di atas roti tersebut.
"Ada berita apa pagi ini, Pa?" tanya Tiara
sambil mengunyah rotinya.
"Biasa. Korupsi." jawabnya singkat. Lalu
meminum kopinya.
Tiara mengangguk-angguk. Lalu melirik ke jam
tangannya. Sudah pukul 6 tepat. Dia harus segera berangkat ke sekolah barunya.
Karena masih harus mengurus ini-itu terlebih dahulu.
Tiara meraih tas sekolahnya sambil meminum susu
coklatnya. "Pa, aku berangkat dulu ya." katanya sambil mencium pipi
kanan-kiri papanya.
"Nggak perlu papa anter, kan?" godanya
sambil menyeringai lebar.
"Nggak lah. Aku udah gede, tau!" jawabnya
sambil memanyunkan bibirnya beberapa senti sesaat. "Lagian aku juga di
anter sama Pak Lanang sekarang. Nanti kalo aku udah apal jalanannya. Aku juga
bakal bawa mobil sendiri."
"Bahaha... iya." Teryadi
mengangguk-angguk. "Yaudah, kamu berangkat, gih. Nanti kamu telat
lho."
"Oke deh, Pa. Daaah." katanya sambil
melambaikan tangan ke papa tercintanya.
Teryadi tersenyum. Setelah melihat anak tunggalnya
sudah menghilang. Dia meraih HPnya di saku kemejanya. Lalu di tekannya beberapa
nomor.
"Halo, sayang?" sapa Teryadi di telepon.
"Halo, Mas." sapa balik seorang wanita dengan
manis.
"Aku jemput sekarang ya, Lun?" tawarnya
sambil melipat korannya.
Wanita yang bernama Luna di seberang
mengangguk-angguk. "Iya, Mas. Aku tunggu."
"Oke. Salam buat Lia ya."
"Iya, Mas. Pasti."
Klik! Telepon di tutup.
Teryadi tersenyum lebar sambil memasukan HPnya ke
saku celananya. Lalu di habiskannya
kopinya yang tinggal setengah. Kemudian di pakaianya jas kantornya yang sejak
tadi tergantung di sandaran kursi. Lalu melangkahkan kakinya sambil memasukan
kedua tangannya ke dalam saku celananya.
***
"Ini kelas kamu Tiara." kata Bu Helni,
wali kelas Tiara yang baru.
Tiara mengangguk-angguk melihat kelasnya. Bersih.
Tidak ada coretan sama sekali. Baik di meja maupun di dinding. "Makasih, Bu."
jawabnya sopan.
Bu Helni mengangguk-angguk. Lalu mengetuk pintu kelas
XI-3. Meminta izin kepada guru yang sedang mengajar untuk memberikan waktunya
sedikit kepada Tiara untuk memperkenalkan diri.
Pak Toro, guru yang sedang mengajar pun
mengangguk-angguk. Setelah tahu maksud dan tujuan Bu Helni datang ke kelas yang
sedang di ajarnya.
"Masuk, Tiara." perintah Bu Helni.
Tiara melangkahkan kakinya dengan percaya diri
memasuki kelasnya yang baru. Lalu menghadapkan tubuhnya ke murid-murid yang
sedang menatapnya dengan pandangan takjub.
Saat Tiara memasuki kelas, tiba-tiba suara menjadi
hening total. Banyak yang mengagumi kecantikan Tiara. Bahkan tidak sedikit yang
melontarkan kalimat pujian dengan nada pelan. Tapi seketika suara-suara
membahana langsung memenuhi ruangan kelas.
"Gila! Cantik banget!" teriak Edgar
nyablak sambil bersiul nyaring.
"Bukan cantik benget lagi, Gar! Tapi cantik buanget
buanget buanget!" ralat Ragil yang duduk di barisan depan.
"Hidungnya mancung banget lagi! Buseeet,
hidung gue di colong tuh pasti." lanjut Firman yang memang suka sensitif
melihat orang lain memiliki hidung mancung. Soalnya hidungnya sendiri mancung
juga. Tapi mancung ke dalam.
"Huuuuuuu......" langsung teriakan
protes membahana di kelas XI-3.
"Hidung tu cewek tuh murni. Ciptaan Tuhan
Yang Maha Kuasa. Enak aja lo asal maen fitnah nyolong hidung lo!" balas Iman
yang terkadang memang suka religius.
"Sudah. Sudah." Bu Helni
menggebrak-gebrak meja dengan keras. "Kalian berisik banget sih! Diam
semua!" omelnya. Lalu menoleh ke Tiara.
Tiara yang sejak tadi terpana melihat antusias dari
calon-calon teman barunya pun terkesima. Tapi tidak lama. Lalu dia tertawa
kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Norak!, katanya dlm hati. Merasa lucu
dengan murid-murid di sini yang norak sekali. Tidak seperti teman-temannya di Paris.
"Silahkan kamu memperkenalkan diri, Tiara."
kata Bu Helni sambil mempersilahkan Tiara memperkenalkan diri.
Sesaat Tiara mengangguk-angguk sopan sambil
tersenyum ke Bu Helni. Lalu menatap sekelilingnya yang masih menatapnya dengan
takjub. Seakan-akan dirinya adalah bidadari yang turun dari langit ke tujuh.
Membuat dirinya susah menahan tawanya.
"Oke! Nama gue Mutiara Anastasia Teryadi.
Kalian bisa manggil gue Tiara. Gue pindahan dari paris. Gue harap, kalian bisa
menerima gue sebagai anggota baru di kelas sebelas tiga. Senang berkenalan
dengan kalian." ucap Tiara percaya diri sambil tersenyum. "Ada
pertanyaan?" tanyanya.
Cowok-cowok sekelas langsung menggangguk-angguk
bersamaan.
"Nomer teleponnya berapa?"
"Nama e-mailnya apa?"
"Tinggalnya di mana?"
"Udah punya pacar belom?"
Tiara mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi
mendengar pertanyaan tidak etis itu terlontar begitu saja. Tapi tidak satu pun ada
yang di jawabnya pertanyaan gila itu.
"Sudah. Diam kalian semua!" Bu Helni
menggebrak meja dengan keras lagi. Merasa malu memiliki murid-murid stres kayak
begini. "Kamu silahkan memilih tempat duduk kamu sendiri, Tiara."
Tiara menatap berkeliling dengan tajam. Bingung harus
memilih tempat duduk yang mana. Karena dilihatnya murid-murid cowok berusaha
menarik perhatiannya untuk duduk sebangku dengan mereka. Dia berdecak pelan. Tapi
tiba-tiba dia menghentikan gerakan matanya di salah satu cowok teman sekelasnya
yang sejak tadi cuek dengan keriuhan kelas karena kedatangannya. Cowok itu
hanya menatapnya tanpa ekspresi. Bahkan cowok itu lebih asik dengan buku di
atas mejanya.
Tiara mengangguk-angguk. Duduk sebangku dengan cowok
itu sepertinya lebih aman. Daripada harus duduk sebangku dengan cowok-cowok
mata keranjang di sekelilinya. Lalu dia menghampiri cowok itu dengan senyum
lebar. Tapi cowok itu sama sekali tidak tersenyum ke arahnya. Bahkan menoleh
pun nggak!
Tiara sudah sampai di hadapan cowok itu. Tapi
kehadirannya sama sekali tidak di gubris dengan cowok di hadapannya. Sombong banget
sih ni cwo, umpatnya dalam hati. Agak kesal. Tapi dia mencoba menyabarkan
hatinya.
Sambil tersenyum manis Tiara menyapa cowok di
hadapannya. "Hai."
Cowok itu mendongakan kepalanya. Lalu kedua alis
tebal itu menyatu. Tapi hanya sesaat. "Hai juga." balasnya cuek.
Tiara ternganga. Baru pertama kali ada yang secuek
ini dengan dirinya. Gila banget! Tapi cepat-cepat di ubahnya raut wajahnya
secepat kilat. "Boleh gue duduk di sini, kan?" ditunjuknya satu
bangku kosong di sebelah cowok itu.
Cowok itu menoleh sekilas ke bangku di sebelahnya.
Lalu meraih ranselnya yang bertengger manis di kursi kosong itu. Di
pindahkannya ke kolong laci mejanya tanpa mengucapkan apa pun.
Tiara mengercitkan dahinya. Bingung. Dia di perbolehkan
duduk di sini atau tidak sih. Karena cowok itu tidak mengucapkan apa pun. Dengan
ragu—karena tidak mau mengulur waktu—akhirnya dia menduduki bangku kosong itu dengan
canggung. Lalu melepaskan tasnya. Dan di taruhnya di kolong meja.
Tiara mencoba bersikap ramah lagi. Di ulurkannya
satu tangannya di titik pandang cowok itu sambil tersenyum manis. "Tiara."
katanya ramah.
Cowok itu melirik sekilas dengan pandangan dingin
ke tangan Tiara. Lalu mengangkat kedua alisnya dengan cuek. "Niko." jawabnya
cuek tanpa menjabat tangan Tiara.
Tiara terbelalak lebar. Mulutnya sudah benar-benar
ternganga. Takjub dengan adanya cowok secuek ini. Sumpah cuek banget! Bahkan
dirinya jadi bingung sendiri. Sebetulnya nih orang emang cuek atau sombong ya?
Akhirnya karena malu, Tiara menarik lagi tangannya
dengan kikuk. Lalu menghela napas. Kesal. Sebal. Dongkol. Malu. Dan berusaha untuk
meredam emosinya. Lalu dia mengalihkan wajahnya ke papan tulis yang sudah di
penuhi dengan materi pelajaran.
***
Bel istirahat berbunyi!
Niko menutup buku yang sedari tadi di bukanya.
Lalu memasukan ke dalam ranselnya. Kemudian dia berdiri dan melangkahkan
kakinya sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya.
Tiara mendumel dalam hati melihat tingkah laku
angkuh cowok yang bernama Niko itu. Sombong banget. Padahal baru setengah hari
dia duduk sebangku dengan cowok itu. Tapi dia sudah merasa tidak betah duduk
sini. Dan cepat-cepat ingin mengundurkan diri dari sini. Tapi dia tidak punya
pilihan lain. Daripada duduk sebangku dengan cowok-cowok cablak kayak mereka
itu. Lebih baik dia bertahan di sini.
Belum sempat Tiara berdiri dari bangkunya untuk melihat-lihat
sekolah barunya. Cowok-cowok teman sekelasnya langsung menghampirinya. Dengan
tampang yang membuat dirinya takut.
"Tiara mau ke mana? Aku ikut ya?"
"Tiara mau liat-liat ya? Aku temenin ya?"
"Tiara harus cobain makanan kebangsaan
sekolah kita! Bakso buatin bu kantin!"
"Tiara harus liat taman belakang sekolah kita
yang indah buanget. Yang biasa di pakai untuk tidur. Hehehe..."
Tiara langsung bingung harus menjawab apa. Dia
jadi takut melihat cowok-cowok di hadapannya sangat antusias. Kedua matanya
bergerak cepat mengikuti sumber suara dengan tampang bloon. Gelisah, di
gigitnya menggigit bibir bawahnya. Ingin cepat-cepat pergi dari sini. Tapi
bingung gimana caranya.
Niko memberhentikan langkahnya seketika. Ketika di
dengarnya teman-temannya menggoda Tiara. Lalu dia membalikan tubuhnya. Menatap
Tiara dengan kedua alis terangkat tinggi. Tadinya sih dia mau cuek aja. Tapi
dia tidak tega melihat tampang Tiara yang sudah seperti ingin di rampok saja.
Dia sangat tahu sifat teman-teman cowoknya yang tidak bisa melihat cewek bening
dikit. Langsung di sosor.
Niko berdecak pelan. Lalu menghampiri Tiara yang masih
duduk di bangkunya dengan tampang bingung. Setelah berhasil menyeruak
teman-temannya yang sudah berkumpul seperti mengantri sembako. Dia langsung
meraih tangan Tiara dan menariknya ke dalam pelukannya. Lalu dibawanya Tiara
pergi.
"Huuuuuuuu......." langsung sorakan yang
kencang di terima Niko.
"Curang lo, Nik!"
"Tau lo! Bagi-bagi dong!"
"Jangan mentang-mentang tu cewek lebih milih
sebangku dengan lo. Lo bisa nguasain tu cewek!"
Yang lainnya langsung membenarkan dengan tampang
serius. Bahkan tingkat keseriusan mereka melebih tingkat keseriusan di kelas.
Niko menoleh sesaat. Lalu menyeringai lebar sambil
mengedipkan satu matanya. "Reward." balasnya singkat. Lalu dia meneruskan
melangkahkan kakinya. Tidak di pedulikan lagi sahutan-sahutan sarap teman-temannya.
Niko melepaskan pelukannya di tempat yang
menurutnya sudah aman. Diliriknya cewek di sebelahnya yang sejak tadi masih
diam dengan tampang bingung sesaat. Lalu dia melangkahkan kedua kakinya dengan
cuek.
"Makasih." ucap Tiara sambil menahan
tangan Niko.
Niko menoleh dan menatap Tiara. Di angkatnya kedua
alisnya tinggi-tinggi sambil mengangguk-angguk cuek. Lalu melangkahkan kedua
kakinya sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya.
Tiara memandang punggung Niko yang bergerak menjauh
dengan kedua mata melebar. "Sumpah! Suara tu cowok mahal banget kali ya.
Ckckck." cibirnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan takjub. Takjub,
karena ada cowok yang cueknya minta ampuuuuuuun kayak gitu. Sesaat dia hanya
terpana menatap punggung Niko yang sudah mulai menghilang. Lalu melangkahkan
kakinya sambil melihat-lihat sekelilingny. "Gue ada di mana nih?"
tanyanya bingung sambil menggarukan kepalanya yang tidak gatal. Namun tiba-tiba...
BUUUK!!!
"Shit!" seorang cowok yang shut-nya
meleset jauh menepuk dahinya dengan kencang. Lalu dia berlari. Menghampiri
korbannya yang jatuh. Dengan cepat dibantunya cewek itu berdiri. Sesaat dia
mengerutkan kedua alisnya. Merasa belum pernah melihat cewek ini sebelumnya.
"Sori. Sori, gue nggak sengaja." katanya bersalah sambil mendirikan
tubuh cewek itu.
Tiara memijit-mijit kepalanya dengan satu
tangannya secara perlahan. Lalu dia memejamkan kedua matanya sesaat. Kepalanya
terasa pusing dan berat. Sial benget sih gue hari ini, kelunya dalam hati.
Kesal. Padahal sekarang hari pertamanya masuk ke sekolah barunya.
Vino, cowok yang tidak sengaja mengenai bola basket
ke kepala Tiara merasa bersalah. Lalu dia mendekati cewek itu secara perlahan.
Kemudian dia mengulurkan kedua tangannya untuk menyentuh kepala cewek di
hadapannya.
"Lo nggak papa, kan?" tanyanya sarat dengan
kekhawatiran sambil memijit-mijit kepala Tiara.
Tiara langsung mengenyahkan tangan yang berada di
kepalanya. Lalu mundur selangkah untuk melihat siapa orang yang sudah membuat
kepalanya berat seperti ini. Di angkatnya kedua alisnya tinggi-tinggi. "Nggak
papa. Nggak papa. Lo nggak liat pala gue benjol gini!?" hardiknya sengit
sambil menunjuk-nunjuk kepalanya. "Pake mata dong kalo maen basket! Bisa
maen nggak sih lo sebenarnya!?" lanjutnya sambil melototi cowok di
hadapannya tajam-tajam.
Vino ternganga lebar mendengar cewek di hadapannya
marah-marah ke dirinya. Apa tadi tu cewek bilang? Bisa maen basket nggak
sebenarnya? Cewek itu nggak tahu, apa!? Kalau dirinya adalah peraih piala lomba
basket antar sekolah tiap tahunnya. Tidak pernah ada kata kalah dalam kamus dia
dalam permainan basket.
"Nggak usah maen kalo nggak bisa!" ucap
Tiara lagi. Lalu melangkahkan kakinya sambil menabrak satu bahu cowok itu
keras-keras. Lalu ngeloyor begitu saja.
Vino terhuyung sedikit dengan mulut yang masih
ternganga. Lalu dengan cepat membalikan tubuhnya. Melihat punggung cewek itu yang
bergerak menjauh. Tanpa sadar, dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan
takjub. Bahkan mulutnya belum tertutup sejak tadi. Baru pertama kali dia di
hina seperti ini. Sama cewek lagi. Cewek yang tidak di kenal pula. Sumpah
kerasa buanget!
Tiba-tiba Vino merasakan seseorang menepuk bahunya
pelan. Dia melirik sekilas ke cowok di sebelahnya. Lalu mengarahkan lagi
tatapannya ke punggung cewek itu yang masih bisa dilihatnya.
"Siapa sih tu cewek?" tanya Vino tanpa
kedua matanya teralih.
Alan mengerutkan dahinya sesaat. Dilihatnya
punggung cewek yang menjadi korban Vino lurus-lurus. Lalu dia mengangkat kedua
alisnya sesaat. Sepertinya dia mengenali cewek itu. Tanpa sadar, dia
mengangguk-angguk. Tahu siapa cewek itu. Karena tadi dia sempat mendengar,
kalau ada anak baru di kelas XI-3. "Namanya Tiara. Anak baru di kelas
sebelas tiga. Baru sekarang tu cewek masuk."
"Anak baru?" Vino menoleh ke Alan sambil
mengangkat kedua alisnya sesaat. Lalu menoleh ke tempat cewek itu menghilang.
"Pantesan dia nggak kenal gue." katanya sambil tersenyum licik.
"Hahaha...” Alan tertawa. “Kenapa?"
"Nggak papa." Vino tertawa kecil. Lalu
meraih bola basketnya. "Yuk!" ajaknya sambil menepuk satu bahu Alan
dengan pelan.
***
Tiara meraih HPnya di dalam tas sekolahnya. Bel pulang
sudah berbunyi. Tadi dia sudah memberitahu Pak Lanang untuk tidak usah
menjemput dirinya. Karena dia ingin di jemput sama teman lamanya.
"Ram, lo di mana? Gue udah balik nih."
kata Tiara di telepon. "Di jalan? Oh, yaudah. Cepatan ya. Panas banget
nih! Hahaha... iya. Iya. Oke deh. Daaah, Rama." lanjutnya sambil
menyeringai lebar. Lalu telepon di matikan.
Tiara memasukan HPnya ke dalam saku kemejanya.
Lalu berdiri di depan gedung sekolah. Untuk menunggu kedatangan Rama, teman
lamanya. Dia kangen sekali dengan cowok itu. Sudah dia lama tidak bertemu.
Mungkin kurang-lebih sudah enam tahun tidak bertemu cowok itu. Dia hanya
berkomunikasi lewat teknologi. Dah hal itu jelas sangat-sangat tidak puas.
Tiba-tiba Tiara mengarahkan kedua matanya dengan
tajam ke motor ninja warna merah di parkiran motor. Kedua alisnya terangkat
tinggi. Dilihatnya cowok cuek itu sedang memakai helm dan jaket. Lalu menaiki
motor merah ninja itu.
Tiara menatap Niko lurus-lurus dan tajam. Tanpa
sedikit pun berkedip. Cowok itu benar-benar cuek banget ternyata. Sama sekali
tidak peduli dengan sekitarnya. Dia rasa, meskipun di depan matanya ada tsunami
berkekuatan sepuluh skalaliter, cowok itu tetap tidak akan peduli.
Tiara semakin menajamkan penglihatannya. Tadi dia
sempat mendengar pembicaraan cewek-cewek di kelasnya. Kalau Niko memang cuek banget
orangnya. Nggak cewek nggak cowok. Semuanya sama aja. Bahkan—menurut
pendengarannya lagi—Niko pernah di kejar-kejar sama senior cewek paling cantik.
Tapi cowok itu juga tetap tidak peduli. Bahkan benar-benar tutup telinga plus
tutup mata. Akhinya senior cewek tersebut merasa sangat-sangat lelah. Karena
tidak pernah di anggap sama Niko. Dan cewek itu pun pergi dengan sendirinya.
Dan Niko jelas tidak peduli. Malah mungkin cowok itu bersyukur banget.
Tiba-tiba mobil Toyota Zelas warna silver berhenti
tepat di hadapan Tiara. Membuyarkan pandangannya yang mengarah lurus-lurus ke
Niko. Refleks dia memundurkan langkah. Lalu mengerjap sesaat. Kemudian dia
mengarahkan kedua matanya ke kaca mobil itu. Ingin tahu siapa orang yang sudah
mengganggunya. Dan siap untuk menghardik orang itu.
Perlahan kaca mobil terbuka. Memperlihatkan
pemilik mobil tersebut. Dia menaruh satu tangannya di ambang jendela sambil
membuka kaca mata hitamnya. Lalu menoleh ke Tiara sambil tersenyum lebar.
"Hai." katanya lembut sambil turun dari
mobil.
Tiara menyatukan kedua alisnya. Sepertinya dia
mengenali wajah orang itu. Tapi di mana ya? Dia semakin merapatkan kedua
alisnya sambil meneliti wajah orang di hadapannya. Tiba-tiba dia ingat wajah orang
itu. Orang itu kan yang melempar bola basket sampai mengenai kepalanya. Cowok
itu yang sudah membuat kepalanya sedikit benjol seperti ini.
Ngapain tu orang ke sini?, tanya Tiara dalam hati.
Kesal. Lalu dia melipat kedua tangannya di depan dada sambil memalingkan
wajahnya ke arah lain. Malas melihat wajah cowok di hadapannya. Yang sudah
membuat moodnya jadi tidak enak seperti ini.
Vino tersenyum tipis. Karena sapaannya tidak di jawab
sama Tiara. Hal itu membuatnya benar-benar gemas. Belum pernah dia di cuekin
seperti ini. Apalagi sama seorang cewek. Biasanya cewek-cewek akan langsung membalas
sapaannya. Tapi cewek ini? Benar-benar membuat dirinya penasaran. Dan
menargetkan dia harus bisa mendapatkan anak baru ini. Harus!
"Anak baru ya?" tanya Vino lembut. Dengan
tatapan yang menghangatkan. "Kelas berapa?"
Tiara mencibir sesaat. Basi!, umpatnya dalam hati.
"Udah tau ngapain nanya!" jawabnya judes.
Ni cewek bener-bener bikin gue penasaran, ucap Vino
dalam hati sambil bersiul panjang. Sekarang baru dia dapatkan mangsa yang
benar-benar mengasikan. Menantang. Tapi dia sangat-sangat menyukai itu.
"Gue Vino. Kelas dua belas lima." kata
Vino sambil mengulurkan satu tangannya dan memamerkan senyum khasnya.
Tiara melirik sekilas ke uluran tangan itu sambil mengangkat
kedua alisnya tinggi-tinggi. "Tiara." jawabnya tanpa menjabat tangan
cowok di hadapannya. Dia tahu banget trik-trik playboy seperti ini. Sudah
hapal. Jadi salah kalau cowok yang bernama Vino ini ingin bermain-main dgnnya.
Salah besar!
Vino menarik tangannya kembali sambil mengangkat
kedua bahunya sesaat. Lalu kedua matanya mengarah lurus-lurus ke cewek di
hadapannya. Tidak salah di kelas XI-3 heboh dengan kedatangan Tiara. Mungkin
sebentar lagi satu sekolah akan memuji-muji Tiara. Soalnya Tiara benar-benar cantik.
Kulitnya mulus bersih, terlihat sama sekali tidak ada noda. Kedua matanya agak
sipit dengan di hiasi kedua alis yang tipis juga. Hidungnya mancung. Sepasang
bibirnya tipis dan merah—bukan sejenis merah yang di kasih lipstik atau
lipgos—tapu merah yang benar-benar asli. Dan rambut cewek itu panjang lurus
sepinggang.
"Kenapa lo liatin gue kayak gitu!?"
sentak Tiara yang sejak tadi melihat Vino memperhatikan dirinya sudah seperti
dia adalah cewek boyish yang terpental ke sini.
Vino menghentikan meneliti lekukan di wajah Tiara.
Lalu tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Nggak papa." jawabnya
sambil menatap lurus ke kedua manik mata di hadapannya. Kedua manik mata itu
berwarna coklat. Indah. "Mata lo indah. I like it." tiba-tiba
kata-kata itu keluar begitu saja tanpa bisa di hentikan.
Tiara membelalakan matanya. Mulutnya sudah
ternganga lebar. Tidak terima dengan ucapan cowok di hadapannya—yang menurutnya—sudah
sangat-sangat kurang ajar. "Sori ya, kalo lo ke sini cuma mau ngomong
hal-hal yang nggak penting. Mendingan lo pergi! Gue nggak ada waktu untuk
ngurusin lo." Hardiknya sambil mengarahkan kedua matanya tajam-tajam ke Vino.
Vino mengangkat kedua alisnya. Merasa aneh dengan
sikap Tiara yang tiba-tiba saja memarahinya. Biasanya jika dia melontarkan
pujian apa pun ke cewek-cewek. Cewek-cewek itu akan langsung klepek-klepek sama
pujiannya. Dan akan langsung mengucapkan terima kasih dengan wajah yang
memerah. Tapi ini, benar-benar beda dari yang lain. Dia semakin merasa
tertantang untuk memilikinya.
"Sori." ucap Vino kemudian dengan nada yang
terdengar bersalah. "Gue nggak bermaksud kurang aja sama lo kok. Gue
serius, mata lo indah."
"Heh!" Tiara melengos ke arah lain dengan
malas. "Basi!" lanjutnya singkat.
Vino tersenyum tipis. Sepertinya dia harus lebih
menyabarkan hatinya untuk cewek ini. Karena cewek ini adalah satu-satunya
target yang bertingkah. Sedikit membuatnya jadi senewen. Tapi dia tidak akan
pernah menyerah sebelum mendapatkannya. Karena setelah dia mendapatkannya. Akan
di buatnya Tiara menjadi semanis kelinci.
"Gue anter pulang ya. Sebentar lagi sekolah
sepi lho." tawarnya manis. "Rumah lo di mana?"
Tiba-tiba terdengar suara cowok yang memanggil
nama Tiara. Tiara dan Vino menoleh berbarengan ke sumber suara.
Tiara tersenyum melihat orang yang memanggilnya
sambil melambai-lambaikan tangannya dan tersenyum lebar. Rama, katanya dalam
hati. Senang. Akhirnya dia bertemu lagi dengan cowok itu. Teman lamanya.
Vino mengercitkan dahinya melihat cowok yang
sedang melambai-lambaikan tangan ke Tiara. Lalu menajamkan kedua matanya. Siapa
tu cowok?, tanyanya dalam hati. Gusar. Apalagi dilihatnya Tiara tersenyum
menatap cowok itu.
Tiara menoleh dan menatap ke Vino. Untuk pertama
kalinya dia tersenyum. Sangat manis. "Sori, gue udah di jemput."
katanya dengan nada yang di buat kecewa. Seakan-akan dia berkata "Gue
sangat amat kecewa nggak bisa pulang bareng lo sekarang. "Thanks atas
tawarannya." lanjutnya sambil menepuk-nepuk bahu Vino sesaat. Lalu
melangkahkan kakinya dengan setengah berlari. Menghampiri Rama yang sudah
menunggunya di mobil Jeep Grand Cherokee warna putih milik cowok itu.
Vino membelalakan kedua matanya. Tidak percaya Tiara
bisa mengucapkan kata-kata itu. Belum pernah dia tolak! Sama sekali belum
pernah. Tidak satu apalagi banyak. Sudah berkali-kali Tiara menolak drinya dalam
waktu yang hanya sehari. Sehari!
Vino menajamkan kedua matanya. Melihat Tiara yang
dengan ringan berpelukan dengan cowok itu. Lalu memasuki mobil Jeep Grand Cherokee warna putih milik cowok itu. Dan mobil itu pun
menghilang.
Vino membasahi bibirnya sekilas sambil memasukan
kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Apa tu cowok pacarnya tiara?,
tanyanya dalam hati. Bingung. Tapi perlahan dia tersenyum licik. Tidak peduli dengan
status cowok itu siapa. Mau pacar atau bukan, dia tidak peduli. Sama sekali tidak
peduli. Pokoknya dia harus bisa mendapatkan Tiara. Titik!
***
"Sumpah! Gue kangen banget sama lo,
Ram!" ucap Tiara histeris.
Rama menyeringai lebar. Lalu membusungkan dadanya.
Di tepuk-tepuknya dadanya dengan bangga. "Rama gitu lho. Siapa sih yang nggak
kangen sama seorang Rama Nugroho?" jawabnya pede banget.
Tiara ternganga sesaat. Lalu mengangkat
kedua alisnya tinggi-tinggi. Menatap wajah di hadapannya dengan pandangan yang
agak-agak gimanaaa gitu. Kemudian dia menyendok es cream ice cream sundae night "Gue
cabut lagi deh kata-katanya!" balasnya sambil memakan es creamnya.
"Hehehe... bercanda, jelek." Rama
mengacak-acak rambut Tiara sesaat. "Gue juga kangen sama lo, Ra. Kangen
buanget!"
"Telat!" cibirnya sambil memeletkan
lidahnya.
Rama tertawa melihat tingkah laku Tiara
yang ternyata masih seperti anak kecil. Lalu dia menyendok es cream home made vanilla
yang di pesannya
sambil memandang wajah Tiara.
Tiara benar-benar berubah total sekarang. Dulu Tiara
selalu di kuncir kuda. Sekarang rambutnya tergerai bebas. Dulu Tiara selalu
memakai kawat gigi. Sekarang gigi-giginya terlihat rapi. Dulu Tiara memiliki
kuku-kuku yang tidak rata dan kotor. Sekarang kuku-kukunya rata dan terlihat
lentik. Indah. Tiara benar-benar berubah total dari segi fisik. Berubah menjadi
cantik.
"Jangan ngeliatin gue sampe segitunya."
tegur Tiara sambil tertawa. Dan mengunyah es cream pesanannya. "Ntar
naksir malah bahaya lho."
Rama langsung tergeragap. Ke-gap sedang memandangi
Tiara. Lalu dia menunduk. Berpura-pura berkonsentrasi dengan es creamnya. "Siapa
yang ngeliatin elo?" elaknya.
"Idiiih, nggak ngaku lagi." jawabnya
sambil menyeringai lebar. "Malu ya ke gap? Hahaha..."
"Gue malu ama lo?" Rama mengangkat kedua
alisnya tinggi-tinggi. "Sori, nggak ada sejarahnya tuh."
"Hahaha..." Tiara tertawa geli.
"Nanti lo malah jatuh cinta ama gue lagi. Kalo sering-sering ngeliatin
gue." lanjutnya bercanda.
"Ya ampun, Ra. Meskipun di dunia ini cuma lo
cewek satu-satunya. Gue ogah banget sama lo. Mending gue jomblo seumur
hidup."
"Ucapan adalah doa." ralatnya santai.
"Hati-hati sama ucapan lo. Ntar jadi kenyataan aja. Nyesel lagi."
Rama hanya tertawa menanggapi bercandaan Tiara. Tiara
memang suka begitu. Tidak mau kalah. Tiba-tiba saja sifat jailnya kumat. Dia
menyendokan es creamnya. Lalu di taruhnya di ujung hidung Tiara.
Tiara langsung mejerit. "Ramaaa! Dingin,
tauuu!" omelnya sambil buru-buru meraih tisu di saku rok abu-abunya.
Rama hanya cekikan geli mendengar omelan Tiara.
Lalu dia melanjutkan mengunyah es creamnya tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Tiara mencolek es creamnya begitu saja dengan
tangan. "Rasakan pembalasan gue!" dan es cream di tangannya pun
berpindah cepat ke pipi Rama. Lalu dia tertawa geli. "Satu sama." Katanya
bangga sambil memeletkan lidahnya.
"Yeeeeee, ni anak!" Rama mencolek es
creamnya dengan tangan. Lalu menaruh di pipi Tiara.
Tiara membusungkan kedua pipinya sesaat. Lalu
melakukan hal yang sama sambil cekikan geli. Rama pun melakukan hal yang sama
lagi.
Alhasil, ice-cream counter ramai bukan karena
pengunjung yang datang. Tapi ramai karena Tiara dan Rama sibuk dengan
perlawanan masing-masing.
***
Niko memarkirkan motornya di halaman rumah. Lalu
dia melangkahkan kakinya sambil memainkan kuncil motornya. Tiba-tiba dia
memberhentikan langkahnya. Di dengarnya suara mamanya sedang berbicara sambil
tertawa. Suara adiknya, Lia, pun juga terdengar sedang cekikan geli.
Niko mendesis kesal. Pasti mama dan adiknya sedang
bercanda dengan Om Adi, pacar mama. Dua bulan setelah papanya meninggal.
Mamanya memang memperkenalkan Om Adi sebagai teman mama. Tapi dia melihatnya tidak
seperti itu. Mamanya dan Om Adi terlihat terlalu mesra untuk ukuran berteman. Dan
seperti orang pcran. Akhirnya dia menyimpulkan dengan sendirinya. Mamanya sudah
memiliki gandengan baru. Meskipun papanya baru dua bulan meninggal.
Dan Niko sangat-sangat tidak menyukai itu.
Niko menghela napas panjang dan berat. Kesal. Lalu
melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Dia melewati orang-orang yang sedang
mengobrol riuh itu dengan santai. Bahkan sama sekali tidak menoleh.
"Niko! Salam dulu sama Om Adi." tegur
mamanya dengan penuh penekanan. Namun suaranya terdengar lembut.
Niko memberhentikan langkahnya sesaat. "Males!"
jawabnya santai. Lalu melanjutkan langkahnya yang tertunda.
"Niko!" teriak mamanya sambil berdiri.
"Niko!"
Tapi Niko sudah tidak mendengarkan teriakan
mamanya lagi. Dia tetap melangkahkan kedua kakinya dengan santai.
Adi langsung menyentuh bahu Luna. Menenangkan
wanita itu. "Udah, lun, kalo nggak mau, nggak usah di paksa."
bujuknya lembut.
"Tapi, mas, kalo di diemin, Niko semakin
kurang ajar." Luna, mama Niko langsung membalasnya dengan sedikit emosi.
"Udah, kamu yang sabar ya. Nanti Niko juga
berubah. Kamu tenang ya."
Luna menghela napas panjang. Lalu
mengangguk-angguk.
***
"Lo besok mau jemput gue, Ram?" tanya Tiara
di telepon sambil menggigit biskuit kesukaannya.
"Iya, jelek. Bawel banget sih lo." jawab
Rama sambil memandangi foto Tiara di meja belajarnya.
"Hehehe... bukan begitu, Ram. Kalo lo nggak
jemput. Gue kan minta anterin Pak Lanang. Soalnya gue belom apal banget jalan
sini."
"Alaaah, mentang-mentang tinggal di Paris.
Udah jadi anak Paris lo sekarang." cibirnya singkat. Lalu mengusap-usap
lembut foto tiara sambil tersenyum lebar.
"Hehehe... bukan begitu juga maksudnya, Ram.
Nanti kan kalo gue nyasar. Lo juga yang rugi." Tiara menyeringai lebar
sambil menyalakan TV dengan remote control. "Nanti lo nggak ketemu gue lagi."
"Hahaha... pede gila lo. Gue malah bersyukur
banget lo nggak ada, tau."
"Eeehh, awas lo ya kalo sampe nangis kalo gue
nggak ada." balasnya tidak mau kalah sambil ketawa geli.
"Iya, gue nangis. Tapi buat speak-speak
doang. Hahaha..." Rama tertawa geli.
"Beeeh, di luarnya speak. Tapi di dalamnya
nangis bombay. Hahaha..." Tiara tetap tidak mau kalah sambil terus
mengemil biskuit kesukaannya dan menonton acara TV malam ini.
"Ntar abis lo ilang. Malemnya gua langsung
ngadain party besar-besaran."
"Party air mata ya, Ram. Hahaha..."
"Kagak. Tapi party merayakan kehilangan
lo."
"Iya. Tapi partynya pake air mata, kan?"
"Nggak lah. Partynya pake makan-makan. Hahaha..."
"Makan-makan sambil ngeliat foto gue. Abis
itu nangis dah."
"Hahaha..." Rama tertawa sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu di taruhnya foto Tiara di meja belajarnya.
Kemudian berjalan menuju ranjangnya. "Oke. Oke. Gue kalah." katanya
menyerah.
"Makanya jangan ngelawan Tiara!" jawabnya
bangga sambi cekikan geli. Tiba-tiba saja dia mendengar klakson mobil. Dia
tersenyum sambil berlari ke arah jendela. Untuk melihat siapa yang datang. Papa
pulang, ucapnya dalam hati. Senang.
"Iya. Iya. Terserah apa kata lo deh." balasnya
sambil menjatuhkan tubuhnya ke ranjang.
"Hahaha... eh, teleponnya gue matiin dulu ya.
Papa udah pulang."
"Oke, sip. Salam buat Om ya. Besok gue jemput
jam enam. Awas lo ya kalo sampe lama dandannya!" ancamnya bercanda sambil
tertawa.
"Hahaha... Sip. Sip. Paling lo cuma nunggu
tiga puluh menit doang kok." jawabnya santai.
"Kita bisa telat, jeleeek!"
"Hehehe... Oh, iya ya." nyengirnya
pura-pura baru sadar.
"Huuu...” Rama tertawa sesaat. “Daaaah,
jelek."
"Daaaah, Rama."
Klik! Telepon di tutup.
Tiara menaruh HPnya di meja. Lalu berlari
menghampiri papanya.
"Papaaa." teriaknya sambil menyeringai
lebar.
Teryadi tersenyum melihat anaknya sambil menutup
pintu mobil. Lalu mengusap-usap kepala Tiara sesaat. Lalu di rangkulnya anak
tunggalnya.
"Gimana hari pertama kamu masuk sekolah,
sayang?" tanya Teryadi sambil tersenyum dan melangkahkan kakinya memasuki
rumahnya.
"Menyenangkan." jawabnya sambil
tersenyum manis. “Very nice." Lanjutnya dengan nada yang di buat riang. Menyenangkan apaan?,
keluhnya dalam hati sambil tersenyum kecut. Menyebalkan, iya!
Teryadi tersenyum. "Bagus, kalo kamu
senang."
Tiara memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Padahal
sih di dalam hati dia ingin sekali berteriak kencang-kencang. Kalau dirinya bertemu
dengan dua cowok nyebelin dan sederet cowok mata keranjang.
"Papa udah makan?"
"Belom." Teryadi menggeleng. "Hmm...
gimana kalo kita makan di luar?" tawarnya lembut.
"Mauuu!!! Aku mau makan masakan Indonesia.
Kangeeen. Hehehe..."
"Oke deh, baby." Teryadi mengedipkan
satu matanya dengan genit. Membuat Tiara menyeringai geli. "Papa ganti
baju dulu ya."
"Siap, bos!" Tiara langsung hormat di
depan papanya sambil tertawa geli.
Teryadi tertawa sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya. Lalu mengacak-acak rambut anaknya sesaat.
***
Rama menatap langit-langit kamarnya. Lalu bibirnya
menyunggingkan senyum lebar. Terkadang dia tertawa kecil sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya.
Rama membasahi bibirnya sekilas. Sekarang Tiara
sudah pulang ke Indonesia. Sekarang Tiara sudah berada di dekatnya. Sekarang Tiara
sudah bisa dilihatnya setiap hari. Dan sekarang Tiara menjadi... cantik.
Bukannya dulu Tiara tidak cantik. Tiara tetap
cantik dulu. Tapi sekarang Tiara terlihat lebih cantik. Dan tubuhnya yang
semampai. Mirip seperti model-model catwalk.
Rama mengangkat kedua alisnya. Mengingat wajah Tiara
dalam bayangannya. Temannya itu memang selalu bisa membuat hatinya bergejolak.
Sifat Tiara yang tidak mau kalah, terkadang membuat dirinya kelimpungan. Tapi Tiara
juga lucu. Ceria. Dan bawel.
Tapi Rama sangat menyukai sifat Tiara. Karena
menurutnya Tiara unik. Tiara juga termasuk cewek pemberani. Soalnya waktu SD
cewek itu sering banget berantem. Meskipun cewek, kalau soal manjat-memanjat
Tiara jagonya. Bahkan Tiara selalu memanjat pagar sekolah kalau cewek itu
datang terlambat.
Rama pikir, Tiara akan tumbuh menjadi gadis tomboy
dan acak-acakan. Tidak peduli dengan penampilan. Tapi ternyata dia salah.
Kepulangan Tiara dari Paris benar-benar mengejutkannya tentang penampilan Tiara.
Tiara sama sekali tidak terlihat cewek tomboy. Bahkan terlihat feminim.
Penampilannya juga tidak acak-acakan. Tapi terawat. Sangat terawat. Bahkan
rambut Tiara yang dulu sering di kuncir kuda dan kering. Sekarang menjelma
menjadi rambut yang terurai indah dan lembut.
Tiba-tiba Rama tertawa geli sendiri. Dia dari dulu
menunggu kepulangan Tiara dari Paris. Dan sekarang Tiara sudah pulang dari
Paris. Tentunya dia tidak akan mensia-siakan penantian panjangnya. Dia akan
berusaha untuk membuat Tiara sadar. Kalau di samping cewek itu selama ini, terdapat
cowok yang sangat setia menunggu kepulangannya. Dan sangat setia menunggu...
cewek itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar